Semarang, Shabda.id -- Kekayaan seni tradisi Kabupaten Kudus kembali memikat perhatian publik. Kali ini, Tari Caping Kalo sukses tampil memukau dalam gelaran Folklore Festival di kawasan Kota Lama Semarang.
Diinisiasi oleh GsT Production, tarian ini tidak sekadar menggunakan kerajinan khas Caping Kalo sebagai properti panggung, melainkan menjadikannya simbol utama untuk membaca karakter serta nilai-nilai kehidupan perempuan Kudus.
Melalui olah gerak yang anggun namun tegas, Tari Caping Kalo menyimbolkan ketekunan, kesederhanaan, rasa kebersamaan, hingga keberanian perempuan Kudus dalam merawat identitas budayanya di tengah arus modernisasi.
Pementasan di Kota Lama Semarang tersebut menjadi momentum penting untuk mengenalkan warisan budaya Kudus kepada khalayak luas melalui bahasa seni pertunjukan.
Sejak resmi diluncurkan pada 8 Februari 2026, Tari Caping Kalo terus diasah dan dikembangkan lewat berbagai agenda latihan, riset budaya, serta rangkaian pementasan di berbagai daerah.
Baca Juga:
Koordinator Tari Caping Kalo, M. Rakha Reswara menegaskan, proses perjalanan karya seni ini tidak akan berhenti di satu panggung saja.
Menurutnya, setiap ruang pertunjukan adalah kesempatan emas untuk mempertemukan tradisi dengan generasi masa kini.
"Melalui keterlibatannya dalam Folklore Festival Kota Lama Semarang, GsT Production terus membawa Tari Caping Kalo ke berbagai ruang perjumpaan seni," katanya.
"Langkah itu menjadi bagian dari upaya menjaga agar seni tradisi tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga terus berkembang dan dapat diterima oleh masyarakat di tengah perubahan zaman," jelas Rakha.
Penampilan tarian ini pun menambah panjang deretan jejak langkah Tari Caping Kalo dalam membawa cerita tentang perempuan, tradisi, dan identitas masyarakat Kudus ke panggung kebudayaan yang lebih luas.