Kudus, Shabda.id- Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) meluncurkan peta digital berbasis Web-Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan titik penjemputan sampah di Kabupaten Kudus, Selasa 09 Juni 2026.
Inovasi digital ini dirancang untuk memudahkan warga Kudus membuang dan mengelola sampah secara lebih tertata, efektif, dan terintegrasi langsung dari ponsel mereka.
Peta digital ini merangkum 525 lokasi strategis di seluruh Kudus. Melalui platform ini, masyarakat bisa dengan mudah menemukan titik pengumpulan sampah terdekat, khususnya untuk jenis sampah organik.
Guna memastikan sampah yang terkumpul tidak menumpuk, BLDF menyiagakan 10 armada penjemputan yang bergerak setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Sampah-sampah ini nantinya dibawa langsung ke fasilitas pengolahan.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengungkapkan bahwa setiap armada memiliki kapasitas angkut yang cukup besar demi menjaga kebersihan kota tetap optimal.
"Setiap armada mampu mengangkut sekitar 70 hingga 120 tong sampah per hari. Jangkauan layanannya cukup luas, mulai dari area terdekat hingga titik terjauh yang berjarak sekitar 27 kilometer dari Pusat Pengelolaan Sampah Organik (PPO) Djarum," ujar Mutiara saat peluncuran peta digital di Pendapa Kabupaten Kudus.
Mutiara menambahkan, inovasi ini merupakan komitmen nyata BLDF dalam mendorong transformasi digital di bidang lingkungan, sekaligus menyokong visi Pemerintah Kabupaten Kudus menuju daerah yang bersih, sejahtera, dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Lebih dari sekadar teknologi, kemudahan akses informasi ini diharapkan mampu menyentuh kesadaran warga untuk mulai memilah sampah secara mandiri sejak dari rumah.
Langkah progresif ini mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. Ia menegaskan bahwa urusan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan butuh sinergi kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
"Kegiatan hari ini bukan cuma soal sosialisasi, tapi membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, mari kita perkuat budaya gotong royong menjaga bumi," tutur Sam’ani.
Senada dengan Bupati, Plt Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus, Didik Tri Prasetiyo, mengingatkan bahwa persoalan sampah memang membutuhkan penanganan yang komprehensif dari hulu hingga ke hilir.
Komitmen BLDF dalam mengedukasi warga ternyata tidak berhenti di peta digital. Melalui program Kudus Asik (Apik dan Resik) mereka aktif mengajak generasi muda untuk melek pengelolaan sampah organik berbasis digital.
Hingga saat ini, ekosistem hijau ini telah diperkuat oleh kehadiran Pusat Pengelolaan Sampah Organik (PPO) di Djarum Oasis serta jaringan kolaborasi yang masif.
Tercatat ada 525 mitra yang telah bergabung mulai dari rumah makan, pasar tradisional, desa, hotel, hingga korporasi.
Hasil dari gotong royong raksasa ini tidak main-main, 50 ton sampah berhasil dihimpun setiap hari untuk diselamatkan dari TPA dan dikelola menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan berkelanjutan.