Pati, Shabda.id- Jalan menuju objek wisata Goa Pancur di Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, mendadak menjadi perhatian warga.
Deretan pohon Tabebuya yang bermekaran dengan bunga kuning membuat suasana jalan pedesaan itu tampak berbeda, bahkan disebut-sebut menyerupai pemandangan di Jepang.
Fenomena mekarnya bunga Tabebuya tersebut ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warga pun berdatangan untuk melihat langsung sekaligus mengabadikan momen di antara pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan.
Heni, warga asal Kecamatan Sukolilo, mengaku mengetahui keberadaan deretan Tabebuya itu melalui unggahan di Facebook dan TikTok. Ia kemudian menyempatkan diri datang bersama rombongan untuk berfoto.
“Kesini tujuannya foto-foto. Ternyata di sini pemandangannya kayak di Jepang, ala-ala Jepang, Jepangnya desa,” ujarnya.
Menurut Heni, pemandangan tersebut sesuai dengan ekspektasinya setelah melihat unggahan di media sosial. Ia menilai deretan bunga kuning itu menjadi daya tarik tersendiri, terlebih bagi pengunjung yang ingin mengabadikan foto dengan latar suasana pedesaan.
Ia sebenarnya cukup sering berkunjung ke kawasan Goa Pancur. Namun, baru kali ini dirinya melihat bunga Tabebuya bermekaran dan menjadi perhatian pengunjung.
Heni mengatakan, waktu pagi kemungkinan menjadi momen yang menarik untuk menikmati pemandangan tersebut. Namun, karena kesibukan pada pagi hari, ia memilih datang pada sore hari.
Kunjungan itu bahkan tidak direncanakan sebelumnya. Ia mengaku langsung menyetujui ajakan temannya untuk berangkat melihat bunga Tabebuya.
“Tempatnya bagus, soalnya di Sukolilo tidak ada yang seperti ini. Sesuai dengan ekspektasi, apalagi kalau HP-nya mumpuni dan kameranya bagus,” katanya.
Baca Juga:
Heni berharap keberadaan pohon Tabebuya tidak hanya menjadi fenomena sesaat. Menurutnya, pemerintah maupun masyarakat setempat bisa mengembangkan penanaman pohon serupa agar pemandangan di kawasan tersebut semakin menarik.
“Harapan kita, masyarakat atau pejabat sini membudidayakan tanaman ini. Kalau bisa dikembangkan lagi agar pemandangannya lebih bagus,” ungkapnya.
Sementara itu, Melly Lestari, warga Desa Jimbaran, mengaku senang melihat bunga Tabebuya yang kembali bermekaran. Meski fenomena tersebut terjadi setiap tahun, ia menilai keramaian pengunjung tahun ini terasa berbeda.
“Jujur kaget juga, soalnya tiap tahun memang mekar, tapi tahun ini lumayan ramai. Cantiknya dapat, berasa kayak di luar negeri. Daunnya banyak yang rontok, tinggal bunga kuningnya yang mendominasi. Foto dari angle mana saja bagus,” tuturnya.
Sebagai warga lokal, Melly mengaku bangga karena jalan desa yang biasanya hanya menjadi jalur lalu lintas warga kini ikut menarik perhatian pengunjung.
Menurutnya, sejumlah orang yang sebelumnya sekadar melintas mulai sengaja berhenti untuk menikmati pemandangan dan berfoto bersama keluarga.
Ia berharap masyarakat ikut menjaga pohon Tabebuya agar keindahannya tetap bisa dinikmati pada tahun-tahun berikutnya. Pengunjung diimbau tidak merusak tanaman maupun mematahkan ranting hanya demi mendapatkan foto.
“Harapannya, pohon Tabebuya ini dijaga dan dirawat bersama-sama. Jangan dipatahkan rantingnya cuma buat konten, jangan buang sampah sembarangan. Sayang banget kalau rusak,” ujarnya.
Melly juga berharap Pemerintah Kabupaten Pati dapat melihat potensi tersebut sebagai peluang pengembangan wisata lokal. Penanaman Tabebuya di sejumlah titik lain dinilai bisa memperindah lingkungan sekaligus menjadi daya tarik baru bagi masyarakat.
“Semoga bisa ditanam lebih banyak lagi di titik-titik lain di Pati, biar nanti jadi ikon kota. Kalau ditata bagus, bisa jadi agenda wisata musiman setiap tahun,” pungkasnya.