SHABDA
Cari berita…
Sosial

Cegah Stunting Sejak Dini, Ketua TP PKK Kudus Ingatkan Pentingnya ASI Eksklusif Hingga 2 Tahun

TIA
TIA
Cegah Stunting Sejak Dini, Ketua TP PKK Kudus Ingatkan Pentingnya ASI Eksklusif Hingga 2 Tahun
Ketua TP PKK PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani Sam'ani Intakoris. (Foto: Shabda.id.)

Kesibukan pekerjaan bukan alasan untuk menghentikan asupan gizi terbaik bagi buah hati.

Kudus, Shabda.id -- Kesibukan pekerjaan bukan alasan untuk menghentikan asupan gizi terbaik bagi buah hati.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani Sam'ani Intakoris, mengimbau seluruh ibu di Kudus untuk menjadikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sebagai prioritas utama demi mencegah stunting sekaligus menunjang tumbuh kembang anak.

ASI dinilai sebagai nutrisi terbaik yang tak tergantikan oleh produk susu apa pun.

Pesan tersebut disampaikan Endhah di hadapan 150 kader kesehatan, kader PKK, dan tenaga kesehatan dalam acara seminar Pekan ASI Sedunia yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus pada Rabu (5/8/2026).

"ASI eksklusif harus diberikan sejak bayi lahir hingga usia enam bulan, kemudian diteruskan dengan makanan pendamping ASI sampai usia dua tahun. Ini menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mencegah stunting," tegas Endhah.

Pihaknya menekankan, status sebagai Ibu yang bekerja bukan halangan untuk menyusui. Dengan memanfaatkan fasilitas ruang laktasi hingga pompa ASI elektrik, proses memerah ASI di sela jam kerja kini semakin praktis.

"Yang penting produksi ASI tetap dijaga. Walaupun bayi tidak menyusu langsung, ibu tetap harus rutin memerah ASI supaya produksinya tidak menurun," pesannya.

Lebih lanjut, Endhah juga mengapresiasi Pemkab Kudus yang menyediakan ruang laktasi di Gedung Setda, serta sejumlah perusahaan swasta di Kudus yang telah memfasilitasi ruang laktasi dan menyimpan ASI bagi pekerja perempuan.

"Langkah tersebut diharapkan dapat diikuti perusahaan lain sehingga semakin banyak ibu yang mampu mempertahankan pemberian ASI eksklusif meskipun memiliki aktivitas bekerja di luar rumah," harapnya.

Selain fasilitas tempat kerja, Endhah menyebut dukungan suami sebagai kunci utama keberhasilan menyusui. Bantuan moral dan pengerjaan tugas rumah tangga dari suami sangat membantu mengurangi beban emosional ibu.

Bagi ibu yang mengalami kendala ASI macet, Endhah menyarankan beberapa langkah medis maupun terapi pendukung. Seperti melakukan pijat laktasi atau menjalani terapi akupuntur.

Bisa juga dengan mengonsumsi suplemen pelancar ASI sesuai panduan petunjuk tenaga kesehatan. Serta rutin menyusui atau memerah ASI untuk merangsang produksi alami tubuh.

Menutup penyampaiannya, Endhah berpesan agar ibu hamil memantapkan mental sejak awal untuk menyusui.

"Selain memberikan proteksi kesehatan terbaik bagi bayi, pemberian ASI eksklusif juga jauh lebih hemat karena mampu menekan pengeluaran belanja susu formula," tandasnya.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
TIA

Penulis

TIA

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait