SHABDA
Cari berita…
Pendidikan

Disnaker Pati Sosialisasikan Program Kerja ke Jepang, Buka Peluang Kuliah Sambil Magang di Luar Negeri

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Disnaker Pati Sosialisasikan Program Kerja ke Jepang, Buka Peluang Kuliah Sambil Magang di Luar Negeri
Sosialisasi tersebut menghadirkan sejumlah lembaga pelatihan kerja (LPK), sekolah menengah kejuruan (SMK), serta perwakilan perguruan tinggi yang menawarkan program kuliah sambil bekerja di luar negeri (Foto: Shabda.id)

Terdapat dua jalur utama bagi masyarakat yang ingin berangkat ke Jepang, yakni program magang dan program kerja

Pati, Shabda.id- Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pati menggelar Sosialisasi Program Kerja ke Jepang, Kamis 25 Juni 2026.

Kegiatan ini menjadi upaya memperluas akses informasi bagi generasi muda Kabupaten Pati terkait peluang bekerja maupun melanjutkan pendidikan melalui program kerja dan magang di Jepang.

Sosialisasi tersebut menghadirkan sejumlah lembaga pelatihan kerja (LPK), sekolah menengah kejuruan (SMK), serta perwakilan perguruan tinggi yang menawarkan program kuliah sambil bekerja di luar negeri.

Kepala Disnaker Kabupaten Pati, Agus Yunianto, menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua jalur utama bagi masyarakat yang ingin berangkat ke Jepang, yakni program magang dan program kerja.

"Untuk program ke Jepang ada dua yaitu program magang dan langsung kerja. Untuk program magang ada kerja sama tertentu yang telah disiapkan," ujar Agus.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi wadah mempertemukan penyelenggara program dengan berbagai lembaga yang selama ini bergerak dalam pelatihan bahasa Jepang di Kabupaten Pati.

"Kami mempertemukan pihak kampus dan pemandu program dengan LPK. Di Pati ada 26 LPK yang khusus mengajarkan bahasa Jepang dan ada enam SMK yang mendapatkan program dari KP2MI terkait pembelajaran bahasa Jepang, sehingga bisa saling terkoneksi," jelasnya.

Agus menilai peluang kerja di Jepang masih terbuka lebar dan tidak dibatasi kuota tertentu karena penempatannya menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja di negara tersebut.

"Kalau Jepang itu sesuai kebutuhan. Potensi anak-anak muda Pati cukup besar karena banyak yang ingin mendapatkan penghasilan yang lebih baik," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor STIKOM Bali, Dadang Hermawan, memperkenalkan program kuliah sambil bekerja di Jepang yang telah dijalankan kampusnya sejak tahun 2017.

Ia menjelaskan, program tersebut dirancang untuk membantu generasi muda yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan tinggi namun terkendala biaya kuliah.

"Kami ingin memfasilitasi anak-anak muda, termasuk di Kabupaten Pati, agar bisa bekerja sambil kuliah di luar negeri. Program ini sudah kami jalankan sejak 2017 dan sudah ratusan peserta yang berangkat ke Jepang kemudian kembali ke Indonesia," ujarnya.

Dadang mengatakan program tersebut dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi.

"Selama ini banyak anak muda yang ingin kuliah tetapi terkendala biaya. Kami mencoba memberikan solusi melalui program kuliah sambil magang di Jepang," katanya.

Dalam skema yang ditawarkan, mahasiswa akan menjalani perkuliahan semester satu dan semester dua secara daring maupun tatap muka. Setelah itu, mulai semester tiga hingga semester delapan, mahasiswa berkesempatan berangkat ke Jepang untuk bekerja atau mengikuti program magang melalui kerja sama dengan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI).

Selama berada di Jepang, peserta tetap menjalankan perkuliahan secara online hingga menyelesaikan masa studi.

"Harapannya pada semester tiga sampai semester delapan mereka bisa ke luar negeri, bekerja atau magang di Jepang, tetapi tetap mengikuti kuliah secara online sehingga pada tahun keempat sudah bisa lulus," terangnya.

Selain memperoleh gelar sarjana, peserta juga diharapkan mendapatkan berbagai manfaat lain seperti pengalaman kerja internasional, kemampuan bahasa asing, jaringan profesional, hingga tabungan hasil bekerja di luar negeri.

"Mereka akan mendapatkan pengalaman internasional, kemampuan bahasa asing, networking yang luas, dan tentu saja penghasilan yang cukup baik ketika masih berstatus mahasiswa," tambahnya.

Ia menyebut biaya pendidikan yang harus dipersiapkan mahasiswa hingga lulus sekitar Rp60 juta. Sementara selama menjalani program kerja atau magang di Jepang, peserta berpotensi memperoleh honorarium sekitar Rp18 juta per bulan.

Program yang ditawarkan STIKOM Bali tersebut berada pada Program Studi Bisnis dengan gelar Sarjana Bisnis (S.Bns).

Melalui sosialisasi ini, Disnaker Kabupaten Pati berharap semakin banyak generasi muda yang memahami peluang kerja luar negeri secara legal dan terstruktur, sekaligus memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi dan pendidikan melalui program yang tersedia.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait