Pati, Shabda.id- SMK Tunas Harapan Pati menggandeng PT United Tractors Tbk dan Direktorat SMK Kemendikdasmen RI untuk memperkuat kompetensi siswa melalui Program Pelatihan dan Sertifikasi Peserta Didik.
Kegiatan yang digelar di SMK Tunas Harapan Pati, pada Ahad 04 Oktober 2026, diikuti 82 siswa kelas XII. Mereka terdiri dari 40 siswa SMK Tunas Harapan Pati dan 42 siswa SMK Kesuma Margoyoso.
Program tersebut difokuskan pada peningkatan kompetensi teknik alat berat sekaligus sertifikasi sebagai bekal siswa sebelum memasuki dunia kerja.
Kepala SMK Tunas Harapan Pati, Ir Eny Wahyuningsih, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menyiapkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri.
“Ini merupakan suatu momen luar biasa yang kami laksanakan di SMK Tunas Harapan dalam rangka menyiapkan generasi muda SMK yang hebat dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Menurut Eny, sekolah tidak hanya membekali siswa dengan kemampuan teknis atau hard skill, tetapi juga soft skill. Untuk kompetensi teknik alat berat, sekolah berkolaborasi dengan United Tractors.
Ia menilai sertifikasi kompetensi menjadi salah satu bekal penting bagi lulusan SMK ketika memasuki dunia industri.
“Uji kompetensi teknik alat berat ini menjadi kesempatan untuk membekali murid. Kami juga menghadirkan LSP ABI dengan dukungan PT United Tractors,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur SMK Kemendikdasmen RI, Dr Arie Wibowo Khurniawan, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kompetensi lulusan SMK agar sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, pelaksanaan program di SMK Tunas Harapan Pati menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang melibatkan sekolah, industri dan pemerintah daerah.
“Ini merupakan bagian dari tugas pemerintah untuk terus meningkatkan kompetensi lulusan SMK agar sesuai dengan permintaan industri,” katanya.
Baca Juga:
Arie berharap sertifikasi kompetensi tidak berhenti pada proses pengujian. Menurutnya, tahap berikutnya perlu diarahkan pada rekrutmen sehingga lulusan SMK memiliki peluang lebih besar untuk langsung bekerja setelah lulus.
“Harapan saya setelah sertifikasi kompetensi ini tidak hanya berhenti di sini, tapi juga dilakukan tahapan selanjutnya yaitu rekrutmen sehingga SMK itu bisa langsung kerja lulusannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan pemerintah memberikan subsidi kepada sekolah untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi bersama industri. Untuk bidang teknik alat berat di Pati, program tersebut diikuti 40 siswa SMK Tunas Harapan dan 42 siswa SMK Kesuma Margoyoso.
Arie menambahkan, keterlibatan industri diperlukan agar kompetensi yang diajarkan di sekolah sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
“Industri yang kita tarik ke sekolah untuk bersama-sama menyusun strategi pembelajaran sampai memastikan kualitas pembelajaran itu sesuai dengan industri,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Dr Sadimin, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Ia berharap model kolaborasi antara sekolah, pemerintah dan industri dapat diperluas ke SMK lainnya di Jawa Tengah.
“Harapannya untuk SMK lain yang ada di Jawa Tengah supaya semuanya bisa maju, tidak hanya Tunas Harapan Pati dan Kesuma, tapi sekolah-sekolah yang lain,” katanya.
Selain keterampilan teknis, Sadimin menekankan pentingnya penguatan kemampuan komunikasi, karakter dan bahasa asing bagi siswa SMK. Hal tersebut dinilai dapat membuka peluang lulusan untuk memasuki pasar kerja yang lebih luas, termasuk peluang kerja ke luar negeri.
CSR Manager United Tractors, Himawan Sutanto, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi siswa SMK, khususnya di bidang teknik alat berat.
“Bagaimana kita meningkatkan kompetensi siswa SMK khususnya di teknik alat berat, karena kompetensi kami di alat berat. Alat berat itu contohnya ada ekskavator, buldozer, forklift, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Menurut Himawan, pelatihan dan sertifikasi tersebut diharapkan menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
“Ini akan menjadi jembatan link and match antara industri dengan dunia pendidikan. Agar apa yang berjalan di industri juga diikuti dunia pendidikan, sehingga kesiapan siswa SMK bisa langsung link and match dengan apa yang dibutuhkan industri,” tandasnya.