Kudus, Shabda.id -- Perumda Tirta Muria Kudus langsung bergerak cepat merumuskan langkah taktis pasca kebanjiran keluhan dari puluhan ribu pelanggan.
Sebelumnya, distribusi air bersih di wilayah Kecamatan Bae, Gebog, Jekulo, dan Undaan sempat lumpuh total akibat dampak pemadaman listrik bergilir yang melanda wilayah Jawa Tengah beberapa waktu lalu.
Direktur Utama Perumda Tirta Muria Kudus, Winarno mengungkapkan, kelumpuhan ini terjadi karena mayoritas sistem distribusi di wilayah terdampak menggunakan jaringan pompa langsung dari sumur yang sangat bergantung pada daya listrik PLN.
Di wilayah Kecamatan Undaan saja, tercatat ada 15 ribu pelanggan yang terdampak saat pasokan air terhenti akibat habisnya cadangan air di reservoir.
Kondisi ini diperparah dengan belum adanya bak penampungan air (reservoir) di wilayah Bae, Gebog, dan Jekulo.
"Jadi untuk pelanggan di wilayah itu, air dari sumur kami langsung dipompa ke jaringan menuju rumah pelanggan. Ketika listrik padam, maka secara otomatis distribusi air juga ikut terhenti," terang Winarno.
Akibatnya, ketika pemadaman berlangsung selama tiga hari berturut-turut, kantor PDAM Kudus langsung diserbu oleh keluhan warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.
Baca Juga:
Menanggapi keluhan massal tersebut, pihak manajemen PDAM Kudus kini tengah menghitung kebutuhan anggaran untuk menambah unit mobile genset baru guna menghidupkan kembali pompa sumur saat pasokan listrik dari PLN terputus.
Saat ini, PDAM Kudus baru memiliki satu unit mobile genset yang kondisinya sudah uzur dengan kemampuan daya dorong yang sangat terbatas.
"Kami mungkin akan menambah mobile genset baru lagi untuk antisipasi gangguan pemadaman listrik. Idealnya satu sumur ada satu genset. Namun tentu butuh anggaran yang tak sedikit. Saat ini masih kami hitung kebutuhan dan kemampuan anggarannya," kata Winarno.
Selain menyiapkan pengadaan genset baru, petugas PDAM di lapangan juga menerapkan prosedur penanganan teknis khusus pasca-pemadaman.
Pasalnya, ketika listrik kembali menyala, air tidak bisa langsung dialirkan seketika ke rumah pelanggan karena petugas harus membuang angin yang terjebak di dalam pipa terlebih dahulu.
"Pemadaman listrik ini dampaknya cukup serius. Karena ketika listrik kembali menyala, kami harus mengeluarkan angin yang ada di pipa dulu. Jika tidak, pipa bisa pecah. Jadi butuh waktu agar air bersih bisa kembali didistribusikan kepada para pelanggan," jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi jangka pendek yang paling realistis, Perumda Tirta Muria Kudus juga memberikan edukasi dan menyarankan masyarakat untuk membangun tempat penampungan air atau tandon mandiri di rumah masing-masing.
Dengan menampung air terlebih dahulu saat aliran sedang lancar, pelanggan setidaknya tetap memiliki cadangan air bersih yang cukup untuk kebutuhan keluarga ketika terjadi pemadaman listrik darurat sewaktu-waktu.