Kudus, Shabda.id- Dua narasumber dari latar belakang berbeda Tiyo Ardianto (mantan Ketua BEM UGM) dan Kholid Mawardi (Anggota DPRD Kudus sekaligus eks-aktivis '98) hadir di Forum Sedulur Maiyah Kudus edisi ke-104 bertajuk "Ngatur Catur" di Rumah Jabatan Wakil Bupati Kudus, Sabtu 11 Juli 2026 malam.
Keduanya, mengajak ratusan pasang mata yang hadir untuk merenungkan kembali, sedang ke mana arah peradaban Indonesia saat ini? Obrolan soal masa depan bangsa dikemas dalam metafora permainan catur? Hangat, mendalam, sekaligus menampar.
Tiyo Ardianto membuka diskusi dengan membedah masalah bangsa dari akarnya yang paling fundamental, cara berpikir.
Menurut Tiyo, segala sesuatu yang terjadi di negara ini termasuk carut-marutnya sistem selalu dimulai dari apa yang ada di kepala kita.
"Kalau seseorang berpikir keliru, maka peluang untuk berbicara keliru juga semakin besar. Ketika kesalahan itu terus diulang, lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan akhirnya berubah menjadi budaya," jelas Tiyo.
Ia mengingatkan, meluruskan kesalahan saat masih berbentuk "isi pikiran" jauh lebih mudah ketimbang jika sudah telanjur diucapkan ke publik.
Sebab, begitu masuk ke ruang publik, ego dan gengsi taruhannya perdebatan bukan lagi soal benar-salah, tapi soal menjaga martabat dan citra.
Celakanya, Tiyo melihat pola ini sedang terjadi pada praktik korupsi di Indonesia. Korupsi tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai dosa individu per individu. Ketika penyimpangan itu dilakukan berulang-ulang oleh banyak pihak dalam waktu yang lama, ia bertransformasi menjadi kebiasaan kolektif, lalu mengkristal menjadi budaya, dan jika dibiarkan tanpa adanya "budaya tanding" yang jujur, ia akan sah menjadi karakter peradaban.
Tiyo pun melemparkan pertanyaan retoris yang mendalam untuk direnungkan bersama. "Apakah persoalan bangsa kita hari ini masih berada pada level kebijakan, tindakan, budaya, karakter, atau jangan-jangan sudah merusak peradaban kita?" ujarnya.
Menyoroti sistem politik, Tiyo menilai demokrasi Indonesia masih menghadapi jalan terjal. Mengutip filsuf klasik Plato, ia mengingatkan bahwa demokrasi bisa berujung petaka (menjadi mainan para elite) jika rakyatnya belum memiliki kecakapan politik dan literasi yang kuat.
"Dalam demokrasi, rakyat harus cerdas," tegasnya.
Baca Juga:
Ia menjabarkan tiga tantangan besar demokrasi kita hari ini. Lemahnya Check and Balances, Sistem trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif) dinilai belum optimal saling mengawasi, sehingga kontrol terhadap kekuasaan masih longgar.
Ongkos pemilu yang selangit memicu lahirnya praktik-praktik instan yang menabrak nilai demokrasi.
"Demokrasi menjanjikan kesetaraan (semua orang sama derajatnya), namun budaya feodal kita masih melanggengkan hierarki. Akibatnya, hubungan politik sering kali didasari oleh loyalitas buta demi jabatan, bukan karena kompetensi," tegasnya.
Meski melontarkan kritik pedas, Tiyo enggan membuat audiens pulang dengan rasa pesimis. Di tengah gempuran algoritma media sosial yang gemar memecah belah dan membuat cemas, ia mengajak masyarakat untuk fokus pada hal yang bisa dikontrol, memperbaiki diri sendiri.
"Kita mungkin tidak punya kuasa langsung untuk mengubah sistem pemilu atau kebijakan negara. Tapi kita punya kuasa penuh untuk memperbaiki diri, keluarga, dan lingkungan terkecil kita. Jika tidak bisa jadi pemimpin perubahan, jadilah pengisi ruang-ruang kosong yang konkret," pesannya optimistis.
Sementara itu, Anggota DPRD Kudus Kholid Mawardi menerjemahkan tema "Ngatur Catur" sebagai cerminan bagaimana roda pemerintahan berjalan.
Dalam catur, bidak tidak bisa bergerak sendiri; harus ada yang menggerakkan. Di negara demokrasi, penggerak utamanya adalah rakyat melalui wakil-wakil yang mereka pilih.
Sebagai politisi yang lahir dari rahim jalanan, Kholid sempat membawa ingatan peserta bernostalgia ke era pertengahan 1990-an.
Ia menceritakan kisahnya saat aktif di GMNI hingga Partai Rakyat Demokratik (PRD), bertaruh nyawa menghadapi represifnya aparat Orde Baru, hingga dinamika peristiwa Kudatuli 1996.
Bagi Kholid, Reformasi 1998 memang berhasil menumbangkan rezim, tetapi perjuangan belum selesai. Pergantian pemimpin terbukti tidak otomatis mengubah sistem secara instan.
Oleh karena itu, Kholid menilai forum-forum dialog alternatif seperti Maiyah ini menjadi sangat krusial. Bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan oase untuk merawat daya kritis masyarakat, menjaga akal sehat, dan merawat optimisme agar tidak padam digilas zaman.