SHABDA
Cari berita…
Daerah

Khotbah Iduladha 1447 H di Stadion Wergu Wetan, Jangan Hanya Eksis di Medsos, Saatnya Sembelih Ego dan Peduli Tetangga

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Khotbah Iduladha 1447 H di Stadion Wergu Wetan, Jangan Hanya Eksis di Medsos, Saatnya Sembelih Ego dan Peduli Tetangga
Kutbah Iduladha 1447 H di Stadion Wergu Wetan (Foto: Shabda.id)

Salat Iduladha terakhir di Stadion Wergu Wetan sebelum dirobohkan yang sarat pesan spiritual dan sosial

Kudus, Shabda.id - Suasana khidmat sekaligus haru menyelimuti Stadion Wergu Wetan pada pelaksanaan Salat Iduladha 1447 H, Rabu 27 Mei 2026.

Momen tahun ini terasa begitu emosional bagi ribuan warga Kudus yang hadir. Ini adalah Salat Ied terakhir yang digelar di sana, sebelum stadion legendaris tersebut dibongkar total untuk dibangun ulang menjadi fasilitas yang lebih megah dan modern.

​Ustadz Dr. Ahmad Zaini, Lc., Msi,. menyampaikan khotbah menyentuh hati, merajut kisah abadi Nabi Ibrahim AS ke dalam realitas kehidupan modern—khususnya tantangan di era smartphone dan media sosial.

Dr. Ahmad Zaini menekankan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan sekadar dongeng sejarah, melainkan potret spiritualitas tertinggi umat manusia.

​"Ketaatan dan ketundukan mutlak kepada Allah SWT adalah inti dari seluruh ibadah kurban," tuturnya.

​Merujuk Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 171, ia mengingatkan jamaah agar tidak menjadi kaum yang hanya ikut-ikutan tanpa pemahaman iman yang mendalam.

​"Puncak spiritualitas seseorang tercermin dari ketaatannya kepada Sang Pencipta. Nabi Ibrahim mengajarkan kita arti keikhlasan tanpa batas," lanjutnya.

​Ada satu poin menarik yang digarisbawahi oleh sang khatib. Saat menerima perintah untuk menyembelih Nabi Ismail, Nabi Ibrahim tidak bersikap otoriter. Sebaliknya, beliau membuka ruang dialog yang hangat bersama sang putra.

​"Nabi Ibrahim mengajak anaknya berdiskusi, meminta pendapat Ismail dengan penuh kasih sayang. Ini adalah pelajaran parenting dan komunikasi yang luar biasa bagi kita semua," jelas Dr. Ahmad Zaini.

​Ia juga mengingatkan bahwa hakikat kurban jauh melampaui ritual menyembelih hewan dan membagikan dagingnya. Hewan kurban, menurutnya, adalah simbol sifat kebinatangan, hawa nafsu, dan tipu daya setan yang harus dikikis dari dalam dada.

​"Iduladha bukan hanya menyembelih hewan, tapi menyembelih ego pribadi, kesombongan, dan sifat mementingkan diri sendiri," tegasnya di hadapan ribuan jemaah.

​Refleksi ini terasa kian menohok saat dikaitkan dengan zaman sekarang. Di tengah gempuran smartphone, manusia justru kerap terjebak menjadi makhluk anti-sosial dan individualis. Banyak yang lebih peduli pada interaksi digital dibanding tetangga sebelah rumah. Melalui kurban inilah, kepedulian sosial yang nyata itu dipanggil kembali.

​"Kurban membawa pesan keadilan sosial dan solidaritas. Tidak boleh ada sekat antara si kaya dan si miskin. Marilah Iduladha ini kita jadikan momentum untuk aktif di dunia nyata, bukan hanya eksis di media sosial," ajaknya.

​Khutbah yang sarat makna ini seolah menjadi kado perpisahan yang indah bagi Stadion Wergu Wetan lama. Ke depan, stadion kebanggaan ini memang akan bersolek menjadi lebih modern.

Namun, pesan keadilan sosial, kerukunan, dan runtuhnya sekat sosial yang menggema di rumput stadion hari ini, diharapkan akan tetap abadi di hati masyarakat Kudus.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait