Kudus, Shabda.id -- Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 resmi menutup seluruh rangkaian kegiatannya melalui Malam Awarding yang digelar meriah di Balai Budaya Rejosari, Kudus pada Sabtu (20/6/2026).
Mengusung tema "Scene The Unseen", festival tahun ini sukses mengukuhkan diri sebagai ruang apresiasi sekaligus motor penggerak ekosistem perfilman bagi generasi muda Indonesia.
Antusiasme sineas muda pada gelaran tahun ini terbilang sangat tinggi. Sebanyak 92 film dari berbagai daerah mendaftar dalam kompetisi ini.
Setelah melalui proses kurasi yang ketat, terpilih 30 film yang berhak mengikuti rangkaian festival, di mana 15 film di antaranya sukses melenggang sebagai nominator untuk memperebutkan sembilan kategori penghargaan.
Tak sekadar menjadi ajang kompetisi, FFAB 2026 juga memperluas ruang apresiasi lewat program screening dan diskusi film di enam titik yang tersebar di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati.
Guna memperluas jangkauan pemirsa, seluruh karya hasil kurasi juga ditayangkan secara gratis melalui platform Sinea.id agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas dari berbagai daerah.
Pada malam penganugerahan, film "Will Today Be A Happy Day" karya sutradara M. Kanz Daffa dan produser Stephanie Ong sukses mendominasi dengan membawa pulang penghargaan tertinggi sebagai Film Terbaik FFAB 2026.
Tidak hanya itu, film ini juga memborong sejumlah penghargaan bergengsi lainnya, termasuk Sutradara Terbaik untuk M. Kanz Daffa, Aktris Terbaik untuk Gendhis Maharani, dan Pemeran Pendukung Terbaik untuk Putri Ramadhani.
Sementara itu, penghargaan untuk kategori aktor terbaik diberikan kepada Firman Marpaung atas perannya sebagai Harun dalam film "Harun".
Pada aspek teknis, film "Tutup Hari Kiamat" mengantarkan Vidyasa Duta Rudini sebagai Penata Skoring Terbaik. Rudini juga menyabet penghargaan Penata Artistik Terbaik lewat film "Kotak Amal".
Untuk kategori Editor Terbaik, penghargaan diraih oleh Charles E melalui film "The Grass and Not Very Grassy Kinda Thing It Does".
Baca Juga:
Dewan juri juga memberikan Penghargaan Khusus kepada film "Kotak Amal" karya sutradara Muhammad Jaya dan produser Heri Meiga.
Dewan juri yang terdiri dari Wahyu Agung Prasetyo, Faradina Mufti, dan Cornel Innos menetapkan para pemenang berdasarkan kualitas artistik, kekuatan gagasan, kemampuan bertutur, serta relevansi karya terhadap tema.
Wahyu Agung Prasetyo mengungkapkan bahwa kualitas karya tahun ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan karena para sineas muda mulai berani mengeksplorasi bahasa visual.
Meski demikian, Wahyu memberikan catatan mengenai tantangan sineas muda dalam menemukan ide yang dekat dengan pengalaman hidup sendiri.
"Beberapa kali saya mengurasi film-film pelajar, saya melihat banyak karya yang berangkat dari isu yang terlalu jauh dari pengalaman mereka. Mungkin salah satunya dipengaruhi media sosial yang membuat referensi semakin luas. Padahal banyak cerita sederhana di sekitar kita yang justru memiliki kekuatan dan relevansi yang besar untuk diangkat menjadi film," ungkapnya.
Menurut Wahyu, semangat tersebut sejalan dengan tema "Scene The Unseen", yang mendorong para pembuat film untuk lebih peka terhadap cerita-cerita di sekitar mereka.
Baginya, film yang kuat tidak selalu lahir dari peristiwa besar, melainkan dari cara seorang sineas memandang realitas secara jujur dan menghadirkannya melalui perspektif yang personal.
Senada dengan hal tersebut, aktris Faradina Mufti menekankan pentingnya proses observasi lingkungan sekitar untuk membangun karakter yang jujur dan hidup.
"Pendalaman karakter bisa dimulai dengan mengamati lingkungan sekitar. Cara orang berbicara, bersikap, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil di sekitar kita sering kali menjadi referensi paling jujur dalam membangun karakter yang hidup," terangnya.
Faradina juga memotivasi para peserta agar tidak menjadikan hasil kompetisi sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai bahan bakar untuk terus berkarya di masa depan.
Dari sudut pandang musik, komposer Cornel Innos melihat esensi FFAB 2026 bukan sekadar mencari pemenang, melainkan menjadi ruang perjumpaan antar-pelaku kreatif untuk saling belajar dan berkolaborasi.
Menutup malam penghargaan, dewan juri berharap Festival Film Anak Bangsa dapat terus tumbuh konsisten guna melahirkan talenta-talenta baru yang siap mewarnai industri perfilman Indonesia.