SHABDA
Cari berita…
Lingkungan

Mandiri Sampah, Desa di Kaliwungu Kudus Ini Tak Lagi Sumbang Tumpukan di TPA Tanjungrejo

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Mandiri Sampah, Desa di Kaliwungu Kudus Ini Tak Lagi Sumbang Tumpukan di TPA Tanjungrejo
Ketua BUMDes Semar Hijau Siswanto menunjukjan hasil olahan sampah plastik jadi BBM (Foto: Shabda.id)

Sulap sampah kresek jadi BBM, TPS3R Sidorekso Kudus tak lagi beli Solar dari Pertamina

Kudus, Shabda.id- Kemandirian pengelolaan sampah di tingkat desa bukan sekadar impian, melainkan hasil nyata dari proses panjang selama satu dekade.

Dibawah kepemimpinan, Mochamad Arifin, Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, telah membuktikan. Kini masalah tumpukan sampah yang kerap membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) milik Pemkab Kudus.

Sejak tahun 2014, Desa Sidorekso terus bergelut dengan problem sampah di Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPS). Kala itu, sistem pengosongan sampah hanya mengandalkan pembuangan akhir ke TPA Tanjungrejo, Kudus, yang memakan biaya operasional sangat besar.

Perjalanan mencari solusi membawa Arifin mengeksplorasi berbagai teknologi, termasuk mendatangkan mesin pirolisis atau pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak/BBM pada tahun 2024. Namun, dia menyadari teknologi hanyalah alat bantu. Kunci utama keberhasilan justru berada di tangan warga.

‘’Saya bisa memutuskan bahwa mesin itu hanya bisa membantu. Sampah baru bisa selesai kalau sudah terpilah dari rumah melalui partisipasi aktif masyarakat,’’ ujar Arifin, pada Rabu 01 Juli 2026.

Berkat kesadaran warga yang mulai memilah sampah sejak dari dapur masing-masing, aktivitas di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sidorekso kini berjalan optimal. Hasilnya, desa ini resmi menyetop pengiriman sampah ke TPA kabupaten sejak tahun 2024 lalu.

Sistem pengolahan di TPS3R Sidorekso kini berjalan secara terintegrasi. Sampah organik dikelola melalui kolaborasi bersama Djarum Foundation. Sementara itu, sampah non-organik dipilah kembali berdasarkan nilai ekonomisnya.

Sampah botol plastik keras dicacah menggunakan mesin pencacah untuk dijual berkala dalam volume besar. Adapun sampah plastik kantong (kresek) dialihkan ke mesin pirolisis. Menariknya, BBM hasil pirolisis ini langsung digunakan untuk menghidupkan mesin-mesin operasional di TPS3R, seperti pengayak dan penggilingan.

‘’Kami tidak lagi membeli BBM dari Pertamina untuk operasional mesin. Semua memanfaatkan hasil pirolisis desa secara mandiri,’’ tambah Arifin.

Sementara untuk sampah residu seperti popok, jumlahnya kini ditekan hingga hitungan kilogram per hari dan dimusnahkan secara mandiri.

Saat ini, program pengolahan mandiri tersebut telah mencakup sekitar 50 persen wilayah desa, dengan melibatkan 1.100 rumah dari total sekitar 2.200 hunian yang ada. Sebagian warga lainnya tercatat masih memanfaatkan lahan pribadi yang luas untuk mengubur atau mengolah sampah organik secara mandiri.

Meski belum mencapai angka partisipasi 100 persen, Arifin menegaskan komitmen keberlanjutan program ini terus berjalan. Fokus penanganan kini diarahkan pada investasi jangka panjang berupa edukasi kepada generasi muda.

Pemerintah Desa Sidorekso mulai gencar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dasar (SD) dan SMP di lingkungan sekitar. Para guru dilibatkan secara aktif untuk membina siswa agar memahami manajemen sampah sejak dini.

‘’Diharapkan, generasi masa depan Sidorekso akan tumbuh dengan budaya bersih dan terbiasa memilah sampah langsung dari genggaman mereka,’’ tutup Arifin.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait