Pati, Shabda.id- Penyusunan Masterplan Bus Rapid Transit (BRT) Aglomerasi Jekuti yang menghubungkan Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati mulai memasuki tahap pembahasan.
Saat ini, konsultan penyusun masterplan tengah mengkaji sejumlah opsi rute hingga titik halte yang akan menjadi bagian dari layanan transportasi massal tersebut.
Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Kabupaten Pati, Muhammad Taufik, mengatakan pihaknya baru menerima kunjungan konsultan penyusun Masterplan BRT Aglomerasi Jekuti untuk membahas sejumlah alternatif rute dan lokasi halte.
"Kemarin baru menerima kunjungan konsultan Masterplan BRT Aglomerasi Jekuti dalam taraf diskusi terkait opsi rute dan titik halte," ujarnya kepada Shabda, Selasa 28 Juli 2026.
Menurutnya, penyusunan kajian Masterplan BRT ditargetkan selesai pada Oktober 2026. Setelah itu, pemerintah merencanakan penyusunan Detail Engineering Design (DED) pada 2027 sebagai tahapan lanjutan sebelum proyek dapat direalisasikan.
"Kajian Masterplan tersebut rencananya sampai bulan Oktober 2026. Tahun depan (2027) direncanakan DED," katanya.
Taufik menjelaskan, pembahasan yang berlangsung saat ini masih berfokus pada penyusunan berbagai opsi rute. Selanjutnya, rencana tersebut akan dibahas kembali di tingkat kabupaten bersama Dinas Perhubungan, terutama untuk mengkaji dampak sosial terhadap angkutan umum yang telah beroperasi agar tidak saling bersinggungan.
Selain itu, pembahasan di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga akan dilakukan untuk mematangkan koridor BRT Jekuti yang menghubungkan Jepara, Kudus, dan Pati.
Baca Juga:
"Baru pembahasan atau diskusi untuk opsi rute. Nanti dibahas lagi di kabupaten oleh Dishub terkait dampak sosialnya juga ke angkutan eksisting yang bersinggungan dan dibahas di provinsi terkait rute koridor Jekuti (Jepara-Kudus-Pati)," jelasnya.
Ia menambahkan, lokasi halte resmi masih menunggu hasil kajian. Namun, dalam pembahasan awal, konsultan telah memetakan sekitar 11 opsi titik halte yang melayani perjalanan menuju maupun berangkat dari Terminal Kembang Joyo, Kabupaten Pati.
"Untuk halte resmi menunggu kajian, namun kemarin coba dititik beberapa opsi halte baik untuk tujuan akhir Terminal Kembang Joyo atau tujuan awal dari Terminal Kembang Joyo sekitar 11 titik," ungkapnya.
Apabila seluruh tahapan perencanaan berjalan sesuai jadwal, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diharapkan dapat merealisasikan pembangunan koridor BRT Jekuti pada 2028.
"Moga-moga Provinsi bisa merealisasikan di tahun 2028," tuturnya.
Menurut Taufik, kehadiran koridor Trans Jateng Jekuti di Kabupaten Pati diharapkan mampu menghadirkan moda transportasi umum yang aman, nyaman, terjangkau, dan tepat waktu sehingga masyarakat beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum.
"Doakan ada Trans Jateng koridor Jekuti di Kabupaten Pati sehingga ada moda transportasi umum yang aman, nyaman, terjangkau dan tepat waktu sehingga masyarakat akan beralih dari moda transportasi pribadi ke moda transportasi umum," pungkasnya.
Untuk tarif, umum Rp5000, sedangkan Lansia Rp1000 per trip. Tapi nunggu tarif resmi yang akan ditetapkan Prov. Kalau pelajar sepertinya sama dengan Lansia.
Besaran tarif tersebut masih berupa perkiraan dan akan mengikuti kebijakan yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.