SHABDA
Cari berita…
Daerah

Merawat Tradisi, Menjaga Bumi: Pesan Toleransi dari Kirab Sedekah Bumi Getaspejaten 2026

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Merawat Tradisi, Menjaga Bumi: Pesan Toleransi dari Kirab Sedekah Bumi Getaspejaten 2026
Salah satu penampilan peserta Kirab budaya desa Getaspejaten (Foto: Shabda.id)

Melalui tema “Rukun ing Agama Lestari ing Lingkungan lan Budaya Desa”, kirab ini menyuarakan dua misi besar sekaligus, menjaga kerukunan antarumat beragama dan merawat bumi yang mereka pijak.

Kudus, Shabda.id — Wajah-wajah penuh senyum dan riuh tabuhan musik tradisional membakar semangat warga Desa Getaspejaten, kecamatan Jati Kabupaten Kudus, pada Ahad Mei 2026.

Di tengah terik matahari, ribuan warga tumpah ruah ke jalanan, merayakan puncak tradisi tahunan Kirab Budaya Sedekah Bumi 2026.

​Bukan sekadar ritual musiman, tahun ini Getaspejaten membawa pesan kuat yang melintasi batas-batas perbedaan. Melalui tema “Rukun ing Agama Lestari ing Lingkungan lan Budaya Desa”, kirab ini menyuarakan dua misi besar sekaligus, menjaga kerukunan antarumat beragama dan merawat bumi yang mereka pijak.

​Kemeriahan hari ini sebenarnya adalah puncak dari rangkaian ritual yang khidmat. Sebelum gunungan hasil bumi dikirab, warga terlebih dahulu menggelar doa bersama di punden desa, disusul dengan kenduri akbar di balai desa—sebuah momen sakral sebagai bentuk syukur atas berkah tanah mereka.

​Setelah prosesi spiritual usai, barulah "pesta" budaya dimulai. Sebanyak 27 kontingen yang terdiri dari lembaga pendidikan, komunitas warga, hingga perwakilan tiap RW berparade menyusuri jalanan desa. Mereka memamerkan kreativitas tanpa batas, mulai dari replika gunungan hasil tani, pakaian adat, hingga pertunjukan seni yang memukau mata penonton di sepanjang rute.

​"Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat hidup rukun tanpa membedakan agama, sekaligus bersama-sama menjaga budaya dan lingkungan desa," ujar Kepala Desa Getaspejaten, Kusnadi, dengan nada bangga.

​Ada cerita menarik di balik layar kemegahan kirab ini. Kusnadi membeberkan bahwa sebagian besar anggaran dan persiapan acara lahir langsung dari swadaya masyarakat. Pemerintah desa hadir memberikan dukungan stimulan berupa konsumsi dan makanan ringan bagi warga yang terlibat.

​Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, antusiasme warga justru menjadi bukti bahwa urusan merawat tradisi tidak bisa diukur dengan materi. Jiwa gotong royong warga Getaspejaten terbukti masih sangat kental.

​Sebagai bentuk apresiasi atas keringat dan kreativitas warga, panitia juga telah menyiapkan penghargaan bagi peserta kirab terbaik, mulai dari Juara 1, 2, 3, hingga kategori juara harapan untuk perwakilan RW.

​Di akhir penuturannya, Kusnadi berharap tradisi sedekah bumi ini tidak berhenti sebagai tontonan setahun sekali. Ia ingin acara ini menjadi pemantik kesadaran sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

​“Harapan kami seluruh warga Desa Getaspejaten tetap kompak, rukun, dan bersama-sama membangun desa agar semakin maju. Kami juga ingin masyarakat semakin sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan demi kenyamanan bersama,” pungkasnya.

​Melalui kirab hari ini, Getaspejaten berhasil membuktikan bahwa budaya bisa menjadi lem perekat perbedaan, sekaligus alarm pengingat untuk menjaga alam tempat mereka bernaung.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait