Kudus, Shabda.id -- Anggota DPRD Kabupaten Kudus, Rochim Sutopo, menanggapi dengan santai kemunculan sejumlah spanduk bernada protes yang sempat membentang di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Alun-Alun Simpang 7 Kudus pada Minggu (14/6/2026).
Salah satu spanduk yang terpasang bahkan secara spesifik mencantumkan nama politisi tersebut dan mempertanyakan keberadaan wakil rakyat di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Berdasarkan pantauan, terdapat tiga spanduk dengan narasi kritik yang berbeda. Seperti "Indonesia sedang tidak baik-baik saja wakil rakyat kita kemana? #DPRD kemana #Halo bapak-ibu dewan #R Sutopo Kemana".
Kemudian ada pula spanduk bertuliskan "Bunyikan klakson jika muak dengan pemerintah", hingga spanduk yang menyentil kebijakan pemerintah daerah dengan tulisan "Kudus Sehat atau Kudus Cantik".
Merespons aksi tersebut, Rochim Sutopo menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa keberatan namanya dicatut.
Ia justru menilai aksi itu sebagai bentuk perhatian dan ekspresi kritis dari masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dan generasi muda, terhadap jalannya roda pemerintahan.
"Kami sebagai wakil rakyat tetap lapang dada. Aspirasi mahasiswa, anak muda, maupun masyarakat akan kami tampung semuanya. Saya tidak keberatan nama saya disebut," katanya, Senin (15/6/2026).
Meski mendukung penuh kebebasan berekspresi sebagai hak konstitusional warga negara, Rochim tetap memberikan catatan.
Baca Juga:
Ia mengingatkan agar penyampaian aspirasi di ruang publik ke depan bisa tetap mengedepankan etika dan menjaga karakter masyarakat Kudus yang dikenal religius.
Lebih lanjut, menjawab pertanyaan krusial di dalam spanduk mengenai keberadaan para anggota dewan, Rochim menepis anggapan bahwa wakil rakyat "menghilang".
Ia menegaskan seluruh anggota DPRD Kudus tetap berkomitmen menjalankan tugas dan selalu berada di tengah-tengah konstituen.
Menurutnya, anggota dewan tidak pernah meninggalkan daerah, kecuali untuk agenda kedinasan resmi yang sudah diketok palu oleh Badan Musyawarah (Bamus) DPRD.
"Kami ada di Kudus 24 jam. Kalaupun berada di luar kota, itu dalam rangka tugas kedewanan sesuai agenda yang telah ditetapkan. Kami tidak ke mana-mana dan terus berupaya memikirkan bagaimana Kudus bisa menjadi lebih baik," tegasnya.
Ia menambahkan, kritik dan masukan dari aksi tersebut akan dijadikan bahan evaluasi internal dalam penyusunan kebijakan daerah ke depan.
Rochim juga membuka pintu bagi generasi muda yang memiliki ide kreatif dan inovatif untuk berdiskusi langsung agar aspirasi mereka bisa dikawal hingga ke eksekutif.
Di akhir keterangannya, Rochim mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi mengawal pembangunan daerah dan menjaga semangat kebangsaan.
Ia berharap perbedaan pandangan tidak menjadi sumbu perpecahan, melainkan menjadi energi positif demi kemajuan Kabupaten Kudus dan Indonesia.