SHABDA
Cari berita…
Daerah

13 Tahun Hidup di Rumah Nyaris Roboh, Priyadi Kini Tak Was-was Lagi

Arif Saifudin
Arif Saifudin
13 Tahun Hidup di Rumah Nyaris Roboh, Priyadi Kini Tak Was-was Lagi
Syukuran Hapernas 2026 dengan peletakan batu pertama bedah rumah (Foto: Shabda.id)

Harapan untuk memiliki hunian yang lebih aman mulai terbuka setelah rumahnya masuk dalam program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digelar Forum Pengembang Pati Indonesia (FPPI) bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Pati

Pati, Shabda.id- Senyum merekah dan rasa lega terpancar dari wajah Priyadi, warga Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.

Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah yang kondisinya memprihatinkan, kini ia mendapat bantuan untuk memperbaiki hunian bersama keluarganya.

Rumah Priyadi yang berukuran sekitar 4x4 meter itu sebelumnya dibangun menggunakan material bekas bongkaran rumah orang tuanya. Selama kurang lebih 13 tahun, rumah tersebut belum pernah direnovasi secara menyeluruh.

Kondisinya pun semakin mengkhawatirkan. Sejumlah bagian bangunan mengalami keropos akibat rayap. Ketika angin kencang datang, bangunan tersebut bahkan terasa bergerak dan dikhawatirkan sewaktu-waktu roboh.

“Rumah saya ini sudah lama, bekas bongkaran rumah orang tua. Keropos kena rayap, terus kalau kena angin gerak-gerak mau roboh. Daripada saya kerobohan sekeluarga, saya mengungsi,” kata Priyadi saat ditemui, Selasa 25 Agustus 2026.

Kondisi rumah tersebut juga jauh dari kata layak. Dindingnya masih berupa bata merah tanpa plester dan terdapat sejumlah lubang yang harus ditutup menggunakan terpal agar hewan tidak mudah masuk.

Bahkan, kondisi bangunan yang tidak aman tersebut pernah membuat anak Priyadi mengalami kejadian tidak menyenangkan. Anaknya pernah digigit kelabang di bagian kepala saat berada di rumah.

Situasi semakin sulit setelah sebagian bangunan rumah itu ambruk pada April 2026. Priyadi bersama istrinya dan dua anaknya yang masing-masing berusia 13 tahun dan 3 tahun akhirnya harus meninggalkan rumah tersebut.

Untuk sementara, mereka menumpang di sebuah rumah kosong milik atasannya di kawasan Semampir. Priyadi sendiri sehari-hari bekerja sebagai pencuci mobil.

Kini, harapan untuk memiliki hunian yang lebih aman mulai terbuka setelah rumahnya masuk dalam program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digelar Forum Pengembang Pati Indonesia (FPPI) bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Pati.

Peletakan batu pertama pembangunan rumah tersebut dilakukan pada Selasa 25 Agustus 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) 2026.

Priyadi mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Ia berharap rumah tersebut nantinya dapat dibangun secara permanen sehingga keluarganya bisa kembali tinggal dengan aman dan nyaman.

“Saya terima kasih banget, terima kasih semuanya. Puji syukur, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada FPPI beserta jajarannya, Disperkim Kabupaten Pati, serta Bapak Plt Bupati Pati, Bapak Chandra,” ujarnya.

Ia juga berharap rumah barunya nanti memiliki kamar yang cukup untuk keluarganya.

Ketua Panitia Hapernas 2026 Kabupaten Pati, Agus Sulaiman, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian para pengembang terhadap masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal layak.

Menurutnya, pada program kali ini terdapat dua rumah tidak layak huni yang menjadi sasaran bantuan.

“Kami sangat mengapresiasi Bapak Plt Bupati yang telah bersama-sama dengan kami, FPPI, dalam bedah rumah kali ini. Kali ini ada dua rumah. Kami berharap untuk selanjutnya akan semakin bertambah,” ujar Agus.

Ia berharap kepedulian serupa dapat diikuti oleh para pengusaha maupun pihak lain yang memiliki kemampuan untuk membantu masyarakat kurang mampu.

Agus menilai masih terdapat warga di Kabupaten Pati yang membutuhkan dukungan untuk mendapatkan hunian yang lebih layak.

Pemkab Dorong Kolaborasi

Sementara itu, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengapresiasi program yang dilakukan FPPI bersama Disperkim tersebut.

Menurut Chandra, kegiatan bedah rumah tidak layak huni merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian dunia usaha terhadap masyarakat sekaligus mendukung program pemerintah dalam penyediaan hunian bagi masyarakat.

“Kegiatan hari ini adalah peletakan batu pertama rumah tidak layak huni yang dilaksanakan oleh Forum Pengembang Pati Indonesia. Ini adalah wujud kepedulian dari teman-teman pengembang dan tentunya mendukung program Bapak Presiden 3 juta rumah,” kata Chandra.

Ia juga mengingatkan para pengembang agar dalam menjalankan pembangunan perumahan tetap mengedepankan kualitas dan kejujuran.

Chandra berharap kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat, khususnya dalam membantu masyarakat kurang mampu sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Pati.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait