Kudus, Shabda.id- Puluhan warga baik pria maupun wanita tercatat mengikuti Program fasilitasi pencarian pasangan hidup Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Kudus.
Hingga saat ini, jumlah pendaftar yang tercatat telah mencapai sekitar 60 orang, dengan peserta berasal dari berbagai daerah, termasuk luar Pulau Jawa.
Sekretaris LKKNU Kudus, Mohammad Solikul Huda, mengatakan pendaftaran masih terus berlangsung melalui jalur daring maupun luring. Dari data yang telah masuk, salah satu peserta terjauh diketahui berasal dari Sumatra Selatan dan berjenis kelamin perempuan.
“Untuk total perkembangan saat ini sudah sekitar 60 yang masuk. Yang paling jauh berasal dari Sumatra Selatan dan pesertanya perempuan,” ujarnya pada Jum'at 05 Juni 2026.
Bahkan, sejumlah peserta yang mendaftar datang dari kelompok usia lanjut. Salah satunya seorang duda berusia 75 tahun. Pria tersebut menanyakan kemungkinan dirinya masih dapat memperoleh pasangan hidup di usia yang tidak lagi muda.
“Beliau bertanya kepada saya, ‘Apakah saya masih bisa mendapat jodoh?’ Pertanyaan itu tentu menarik karena usianya sudah 75 tahun,” katanya.
Huda mengaku menanyakan kesiapan peserta tersebut, terutama terkait kemampuan menjalankan tanggung jawab rumah tangga.
Dari hasil percakapan, diketahui bahwa pria tersebut masih aktif bekerja sebagai penjahit dan guru mengaji. Ia juga menyampaikan bahwa anak-anaknya telah dewasa dan hidup mandiri. Keinginannya mengikuti program tersebut semata-mata untuk mencari pendamping hidup di masa tua.
“Saya sampaikan bahwa kalau ingin mencari pasangan, harus tetap memiliki pekerjaan atau aktivitas yang produktif. Jangan sampai tujuan mencari istri justru membuat dirinya bergantung kepada pasangan,” jelas Huda.
Baca Juga:
Lebih jauh, Huda menegaskan bahwa program yang dijalankan LKKNU bukan sekadar mempertemukan laki-laki dan perempuan untuk menikah. Program tersebut juga dilengkapi berbagai kegiatan pendampingan, seperti Pembekalan Rumah Tangga Maslahah dan Konsultasi Keluarga Maslahah.
“Program ini bukan hanya soal mencari jodoh. Kami juga memiliki pembekalan rumah tangga dan konsultasi keluarga agar pasangan yang terbentuk nantinya memiliki bekal yang cukup,” katanya.
Layanan konsultasi keluarga saat ini bahkan mendapatkan respons cukup tinggi. Beberapa warga datang untuk berkonsultasi mengenai persoalan rumah tangga, mulai dari konflik keluarga hingga keinginan untuk rujuk setelah perceraian.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan keluarga tidak hanya berkaitan dengan pencarian pasangan, tetapi juga bagaimana mempertahankan dan memperbaiki hubungan yang telah terjalin.
Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan perjodohan, LKKNU juga mengingatkan adanya praktik biro jodoh palsu yang marak di media sosial.
Modus yang digunakan umumnya berupa pungutan biaya pendaftaran dengan mengatasnamakan layanan pencarian pasangan, namun tanpa legalitas yang jelas.
“Sudah ada laporan korban dari layanan semacam itu. Karena itu masyarakat perlu berhati-hati dan memastikan lembaga yang dipilih memiliki legalitas yang jelas,” tegasnya.
Sebagai pelengkap ikhtiar, LKKNU juga berencana menghadirkan pembekalan spiritual berupa ijazah doa dan amalan khusus terkait kemudahan dalam urusan perjodohan.
“Kami berupaya memberikan pendampingan lahir dan batin agar peserta lebih siap dalam membangun keluarga yang maslahat,” pungkasnya.