Kudus, Shabda.id- Di usia yang telah menginjak 80 tahun, Ngatini harus menjalani hari-harinya dalam keterbatasan. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk reot berukuran sekitar 2×3 meter di pekarangan rumah warga RT 9 RW 1, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.
Gubuk yang menjadi tempat tinggal Ngatini jauh dari kata layak. Dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu, sementara lantainya masih berupa tanah liat. Sejumlah bagian dinding bahkan sudah berlubang.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang berukuran pas dengan tubuhnya. Beberapa pakaian tergantung seadanya, sementara sejumlah perkakas dan barang lainnya terlihat menumpuk tidak beraturan.
Tak ada dapur maupun kamar mandi di dalam gubuk tersebut.
Di luar gubuk, tampak tumpukan botol plastik bekas dan berbagai barang yang dikumpulkan Ngatini. Barang-barang tersebut menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk sekadar membeli makanan.
Ngatini mengaku tinggal sendirian. Ia sudah tidak memiliki suami maupun anak. Tanah yang ditempatinya pun bukan miliknya.
"Saya di sini itu numpang. Tanah ini milik orang, sementara gubuk ini yang membuatkan juga orang lain," ujar Ngatini saat ditemui, Kamis 08 Oktober 2026.
Ketiadaan kamar mandi membuat Ngatini harus bergantung kepada kebaikan tetangga. Untuk mandi maupun buang air kecil dan besar, ia menumpang di rumah warga sekitar.
"Mandi dan buang air numpang di rumah itu," katanya sembari menunjuk rumah tetangganya.
Untuk kebutuhan listrik, Ngatini juga masih mengandalkan sambungan dari rumah sebelah.
Baca Juga:
Ngatini mengaku sudah lama tidak bekerja. Di tengah keterbatasan fisiknya, ia hanya mengandalkan aktivitas mengumpulkan botol bekas untuk mendapatkan uang.
Botol-botol tersebut dikumpulkan selama beberapa hari hingga jumlahnya cukup banyak untuk dijual kepada pengepul.
"Biasanya dapat uang Rp7 ribu sampai Rp10 ribu. Kemudian uangnya buat beli makan," bebernya.
Penghasilan tersebut tentu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, ada kalanya Ngatini tidak memiliki uang untuk membeli makanan.
Dalam kondisi seperti itu, ia memilih menahan lapar. Ia baru bisa makan ketika ada tetangga atau orang lain yang memberinya makanan maupun uang.
"Rasa lapar sudah biasa. Kalau ada makanan ya dimakan, jika tak ada yang ditahan saja. Sebab saya tidak berani hutang ke warung," ucapnya.
Kondisi tempat tinggal yang serba terbatas rupanya tidak membuat Ngatini mengeluh. Ia justru mengaku betah dan bersyukur masih ada orang yang bersedia memberikan tempat untuknya tinggal.
"Saya kerasan dan nyaman-nyaman saja. Meski reot begini, kalau hujan tidak bocor. Untuk nyamuk pasti ada, tapi gak masalah bagiku," ungkapnya.
Ngatini juga mengaku beberapa kali menerima bantuan beras dari pemerintah. Namun, ia mengatakan belum pernah menerima bantuan berupa uang.
"Tidak pernah dapat bantuan berupa uang. Kalau bantuan beras ada beberapa kali," sebutnya.
Di tengah usia senja, Ngatini kini masih bertahan dengan apa yang bisa ia lakukan. Mengumpulkan botol bekas, menunggu uluran tangan tetangga, dan sesekali menahan lapar menjadi bagian dari kesehariannya.