SHABDA
Cari berita…
Pendidikan

Dari Batok hingga Kopra, KKN 155 Ungkap Potensi Besar Usaha Kelapa di Desa Sumbermulyo, Kec. Tlogowungu Pati

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Dari Batok hingga Kopra, KKN 155 Ungkap Potensi Besar Usaha Kelapa di Desa Sumbermulyo, Kec. Tlogowungu Pati
Mahasiswa KKN UIN di Pengolahan Kelapa (Foto: Shabda.id)

Hadi Kelapa memperoleh bahan baku dari pemasok yang sudah bekerja sama, baik dari dalam Kota maupun luar Kota. Selain itu, masyarakat sekitar juga dapat menjual kelapa yang mereka miliki

Pati, Shabda.id- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 155 UIN Sunan Kudus mengunjungi usaha pengolahan kelapa yang bernama "Hadi Kelapa" di Dukuh Ndekem, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Selasa, 18 Agustus 2026.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk mengenal lebih dekat potensi usaha masyarakat yang ada di Desa Sumbermulyo. Dalam kegiatan itu, Mahasiswa KKN 155 juga melakukan wawancara dengan Ghofur selaku pemilik Hadi Kelapa mengenai proses produksi dan perkembangan usahanya.

Ghofur menjelaskan, Hadi Kelapa di Pati baru berjalan sekitar satu tahun. Namun, usaha tersebut sebenarnya telah berdiri sejak 2020 dan sebelumnya berlokasi di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

“Kalau di Pati baru sekitar satu tahun, sebelumnya sudah berdiri sejak 2020 di Kota Palembang,” ujar Ghofur saat diwawancarai Mahasiswa KKN 155, Selasa, 18 Agustus 2026.

Dalam proses produksinya, Hadi Kelapa memperoleh bahan baku dari pemasok yang sudah bekerja sama, baik dari dalam Kota maupun luar Kota. Selain itu, masyarakat sekitar juga dapat menjual kelapa yang mereka miliki kepada usaha tersebut.

Kelapa yang masih utuh terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian dan kemudian dikeringkan. Setelah itu, setiap bagian dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang berbeda. Batok kelapa diolah menjadi arang, sedangkan daging buahnya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kopra.

Untuk produksi arang, proses di Hadi Kelapa masih berada pada tahap setengah jadi. Arang yang telah melalui proses pengeringan kemudian diayak sebelum dikirim ke rumah produksi berikutnya untuk diproses hingga menjadi produk akhir.

Produksi arang dilakukan berdasarkan target dan permintaan buyer. Jika target sudah terpenuhi, arang akan langsung dikirim ke rumah produksi selanjutnya. Biasanya, target pengiriman terpenuhi setelah terkumpul sekitar tiga truk arang.

Arang yang dihasilkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga dipasarkan ke luar negeri. Salah satu tujuan ekspor arang briket tersebut adalah wilayah Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan beberapa negara lainnya.

Sementara itu, daging kelapa diolah menjadi kopra. Kopra yang dihasilkan Hadi Kelapa juga masih berupa produk setengah jadi. Setelah dikeringkan menggunakan oven, kopra kemudian disortir untuk memisahkan hasil berdasarkan kualitasnya.

Kopra dengan kualitas baik dikenal sebagai kopra putih. Setelah proses penyortiran selesai, kopra kemudian dikirim ke pabrik yang berada di Kabupaten Mojokerto untuk menjalani proses berikutnya.

Di pabrik tersebut, kopra diproses menjadi minyak berbahan dasar kelapa. Dengan demikian, kelapa yang menjadi bahan baku tidak hanya menghasilkan arang dari batoknya, tetapi juga dapat dimanfaatkan menjadi

kopra dan selanjutnya diolah menjadi minyak kelapa.

Kunjungan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa KKN 155 mengenai pemanfaatan potensi lokal yang ada di Desa Sumbermulyo. Pengolahan kelapa menjadi arang dan kopra menunjukkan bahwa satu komoditas dapat menghasilkan beberapa produk yang memiliki nilai ekonomi.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait