SHABDA
Cari berita…
Peristiwa

Dikeluhkan Warga Soal Debu Abu Tebu, PG Rendeng Optimalkan Spray Air dan Perbaiki Mesin ESP

TIA
TIA
Editor: Arif Saifudin
Dikeluhkan Warga Soal Debu Abu Tebu, PG Rendeng Optimalkan Spray Air dan Perbaiki Mesin ESP
Penggilang tebu di PG Rendeng pada awal Agustus 2026. (Foto: Shabda.id.)

Manajemen Pabrik Gula (PG) Rendeng merespons keluhan warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, terkait sebaran debu yang terangkat ke permukiman selama musim giling berlangsung.

Kudus, Shabda.id -- Manajemen Pabrik Gula (PG) Rendeng merespons keluhan warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, terkait sebaran debu yang terangkat ke permukiman selama musim giling berlangsung.

Wakil Manager Teknis PG Rendeng, Yuke Adetya meminta maaf kepada masyarakat atas ganggungan polusi debu yang ditimbulkan dari proses penggilingan tebu dari PG Rendeng Kudus.

Ia menjelaskan, selama operasional pabrik menggunakan ampas tebu sebagai bahan bakar boiler. Pembakaran biomassa tersebut menghasilkan abu berat (bottom ash) dan abu ringan (fly ash) yang berpotensi terbawa angin.

Untuk menekan sebaran debu, pabrik memanfaatkan teknologi penangkap abu berupa Electrostatic Precipitator (ESP) dengan dua filter kompartemen.

"PG Rendeng sudah dibekali peralatan tersebut. Terkait ESP kami mempunyai dua filter kompartemen, sisi utara dan sisi selatan. Di filter itu kami optimalkan untuk menangkap abu,” terang Yuke saat ditemui, Sabtu (8/8/2026).

Namun, arus listrik pada sistem ESP saat ini masih dibatasi agar tidak terjadi kondisi trip atau korsleting yang justru dapat melumpuhkan sistem pengontrol abu.

Untuk penanganan jangka pendek, PG Rendeng memasang sejumlah titik spray atau penyemprot air untuk mengabutkan air di area yang berpotensi menjadi sumber penyebaran abu.

Langkah tersebut dilakukan agar abu ringan yang beterbangan dapat ditangkap, kemudian dijatuhkan sehingga tidak menyebar terlalu jauh ke lingkungan sekitar pabrik.

"Kami pasang beberapa titik untuk abu boiler dan juga ampas halus. Sekarang memang ada debu putih halus, itu kami pasang spray bertingkat. Ada mitigasi penanganan jangka pendek," jelas Yuke.

Selain memperbanyak titik spray dan mengevaluasinya setiap hari, pabrik berencana memasang jaring paranet sebagai penghalang fisik agar debu menempel dan tidak terbang jauh.

"Untuk penanganan jangka pendek nanti tambah titik spray dan paranet biar tidak sampai terbang jauh, dia (debu) menempel dulu," terangnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, perbaikan menyeluruh pada mesin ESP baru bisa dieksekusi secara penuh pada awal November 2026, menunggu musim giling rampung pada Oktober 2026 agar suhu dalam mesin aman untuk diperiksa teknisi.

Sebelumnya, seorang warga Desa Rendeng, Toriq mengeluhkan debu akibat penggilingan tebu PG Rendeng yang membuat lingkungan kotor serta udara tercemar.

Menurutnya, pemandangan debu menumpuk ini seolah menjadi rutin tahunan yang harus ditelan masyarakat setiap kali industri tersebut memproses tebu.

"Setiap musim giling begini, debunya kalau disapu itu lumayan banyak. Kalau kelilipan itu sakit, jadi harus beli obat mata," kata Toriq.

Warga berharap pihak pabrik dapat meminimalkan sebaran limbah udara tersebut agar roda industri tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan serta kenyamanan lingkungan sekitar.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
TIA

Penulis

TIA

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait