Kudus, Shabda.id -- Dampak polisi debu yang diduga kuat berasal dari aktivitas operasional Pabrik Gula (PG) Rendeng dikeluhkan warga sekitar, khusunya di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
Warga mengeluh karena masalah lingkungan ini berulang setiap kali musim giling tebu dimulai, hingga memicu keresahan masyarakat sekitar.
Debu tebal yang terbawa angin kerap menerobos masuk ke kawasan permukiman. Dampaknya, rumah hingga kendaraan milik warga cepat kotor meski sudah berulang kali dibersihkan dalam sehari.
Salah seorang warga setempat berinisial ML mengungkapkan, ketidaknyamanan ini kian parah saat malam tiba. Ia menyebut tumpukan debu terus berdatangan tanpa henti.
"Debunya itu tebal, apalagi kalau malam hari bisa lebih parah. Lantai rumah, motor, dan mobil itu berdebu semuanya. Bahkan sudah dibersihkan atau disapu nanti muncul lagi debunya," ujar ML.
Selain mengotori perabotan dan lingkungan, paparan debu juga mengancam kesehatan mata warga. ML mengaku matanya sering terasa perih akibat terkena serpihan debu saat beraktivitas di luar rumah.
Baca Juga:
"Kelilipan terus membuat tidak nyaman, kadang mata menjadi sakit. Harus maskeran ketika keluar rumah," tambah ML.
Senada dengan ML, warga bernama Toriq menyoroti ketiadaan penanganan permanen dari pihak manajemen pabrik.
Menurutnya, pemandangan debu menumpuk ini seolah menjadi rutin tahunan yang harus ditelan masyarakat setiap kali industri tersebut memproses tebu.
"Setiap musim giling begini, debunya kalau disapu itu lumayan banyak. Kalau kelilipan itu sakit, jadi harus beli obat mata," tegas Toriq.
Masyarakat kini mendesak pihak PG Rendeng untuk tidak sekadar bersikap reaktif saat protes muncul, melainkan melakukan pencegahan sistematis dan evaluasi menyeluruh.
Warga berharap pihak pabrik dapat meminimalkan sebaran limbah udara tersebut agar roda industri tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan serta kenyamanan lingkungan sekitar.