Demak, Shabda.id -- Petani tembakau di Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, mulai memasuki masa panen pada musim kemarau tahun ini.
Meskipun harga jual tembakau tergolong baik, para petani masih harus menghadapi kendala keterbatasan pasokan air untuk menyiram tanaman mereka.
Salah seorang petani asal Desa Rejosari, Heru mengatakan, harga tembakau kering di tingkat petani saat ini berkisar antara Rp44.000 hingga Rp45.000 per kilogram.
Dari lahan seluas seperempat bagian, ia mampu menghasilkan sekitar 30 hingga 40 kilogram tembakau kering siap jual.
"Untuk pengolahan butuh waktu sekitar tiga hari, mulai dari pemetikan bertahap, pemeraman dua hari, perajangan, hingga penjemuran. Hasilnya nanti ditimbang dan langsung dibeli tengkulak yang datang ke rumah," kata Heru.
Meski demikian, Heru mengaku kesulitan mendapatkan air karena belum tersedianya jaringan irigasi di area persawahan warga.
Baca Juga:
Selama musim kemarau, petani harus menyedot air dari sungai yang berjarak cukup jauh menggunakan mesin diesel dan selang pasokan.
Menanggapi hal tersebut, Camat Karangawen, Anwar Masdari, membenarkan bahwa tembakau merupakan komoditas utama di wilayahnya pada masa tanam ketiga.
Tanaman ini tersebar di 12 desa, dengan wilayah dominan seperti Desa Karangawen, Kuripan, dan Margoagung.
Anwar menyebutkan, selain tembakau biasa, Desa Karangawen juga memiliki varietas tembakau hitam unggulan yang harganya bisa mencapai Rp100.000 per kilogram. Namun, tembakau kelas super ini hanya bisa tumbuh di titik-titik tanah tertentu.
"Harga tembakau tahun ini cukup bagus dan membantu perputaran ekonomi warga. Namun karena cuaca panas, petani memang harus ekstra mandiri mencari sumber air agar tanaman tidak rusak," ujar Anwar.
Guna menyelesaikan masalah irigasi tersebut, pihak kecamatan berharap proyek Bendung Jragung dapat segera difungsikan untuk memasok air pertanian warga.
Sementara waktu, pendampingan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) terus digencarkan untuk membantu kelompok tani menjaga kualitas panen.