SHABDA
Cari berita…
Agraria

Panen Tetap Berjalan saat Kemarau, Petani Desa Gulang Kudus Andalkan Sumur Pompa Dangkal

TIA
TIA
Panen Tetap Berjalan saat Kemarau, Petani Desa Gulang Kudus Andalkan Sumur Pompa Dangkal
Panen jagung di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus di tengah musim kemarau panjang pada Senin (28/9/2026). (Foto: Shabda.id.)

Petani di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, masih tetap bisa panen di tengah musim kemarau panjang.

Kudus, Shabda.id -- Petani di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, masih tetap bisa panen di tengah musim kemarau panjang.

Berkat hadirnya sumur pompa dangkal, mereka tetap bisa mengolah lahan dan memanen hasil bumi meski cuaca sedang terik-teriknya.

Pemerintah Desa (Pemdes) Gulang sengaja menyuntikkan anggaran khusus untuk membangun jaringan sumur pengairan ini.

Langkah cepat tersebut diambil agar sektor pertanian yang menjadi tumpuan warga tidak berhenti berproduksi saat musim kering.

Kepala Desa Gulang, Aris Subkhan menjelaskan, pembangunan sumur dialokasikan dari kolaborasi program Ketahanan Pangan Dana Desa dan bantuan Dinas Pertanian.

"Satu titik sumur dangkal bisa menyuplai air untuk 5 sampai 6 hektare lahan, terutama untuk tanaman jagung," kata Aris saat meninjau area persawahan, Senin (28/9/2026).

Ia melanjutkan, saat ini ada beberapa titik sumur dangkal yang tersebar di wilayan Desa Gulang. Fasilitas ini membuat aktivitas pertanian warga tetap berjalan.

"Jadi sembari menunggu Musim Tanam (MT) 1 saat musim hujan tiba, petani tetap bisa produktif menanam komoditas alternatif seperti jagung dan tembakau," terangnya.

Manfaat fasilitas ini dirasakan langsung oleh para petani lokal, salah satunya Utomo. Petani yang sudah bertahun-tahun menggarap lahan di Desa Gulang ini mengaku hasil panennya justru meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Musim kering begini kami murni mengandalkan air sumur dangkal. Hasilnya bagus sekali, bahkan pendapatan kami ada peningkatan dibanding sebelum ada fasilitas ini," ungkap Utomo.

Biasanya, petani Desa Gulang menanam melon menjelang musim hujan, lalu beralih ke cabai, jagung, dan tembakau saat kemarau tiba. Untuk menjaga operasional sumur, para petani bergotong royong menarik iuran swadaya.

"Biayanya Rp80 ribu per hari untuk 8 jam pengairan. Uang ini dipakai buat bayar listrik dan biaya perawatan alat kalau ada kerusakan," jelasnya.

Meski kemarau tahun ini terbilang cukup terik, Utomo bersyukur pasokan air tanah di wilayahnya tetap mengalir dan tidak ada kendala.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
TIA

Penulis

TIA

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait