Kudus, Shabda.id -- Ancaman fenomena iklim El Nino yang diprediksi berlangsung hingga awal tahun 2027 menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kudus.
Guna mengantisipasi dampak kekeringan ekstrem dan menjaga stabilitas ketahanan pangan lokal, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus mengimbau para petani untuk segera menyesuaikan pola tanam dengan memilih komoditas yang lebih tahan kering.
Langkah antisipatif ini merespons peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprakirakan musim kemarau periode ini akan jauh lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Kepala Dipertan Kabupaten Kudus, Didik Tri Prasetiyo menegaskan, ketepatan dalam memilih jenis tanaman menjadi kunci utama agar produktivitas sektor pertanian di Kudus tidak merosot tajam akibat menyusutnya pasokan air.
"Petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim saat ini. Pada lahan yang memiliki keterbatasan air, kami merekomendasikan komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan sehingga risiko gagal panen dapat ditekan," ujar Didik saat ditemui pada Rabu (1/7/2026).
Sebagai solusi konkret, Didik menyarankan para petani yang menggarap lahan sawah dengan sistem irigasi terbatas untuk beralih sementara waktu dari tanaman padi ke komoditas palawija.
Pilihan tanaman seperti jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, maupun ubi kayu dinilai jauh lebih ideal karena memiliki tingkat konsumsi air yang relatif sedikit.
Baca Juga:
Namun, bagi wilayah yang kondisi sumber airnya masih mencukupi, aktivitas menanam padi sebenarnya masih bisa dipertahankan. Syaratnya, petani harus beralih menggunakan varietas padi berumur genjah atau berumur pendek.
"Penggunaan varietas genjah ini penting agar masa tanam menjadi lebih singkat, sehingga penggunaan air bisa jauh lebih efisien," tambahnya.
Selain penyesuaian jenis komoditas, Dinas Pertanian juga mendorong optimalisasi seluruh infrastruktur pengairan yang ada di desa-desa.
Petani diminta aktif memanfaatkan embung, sumur pompa, serta menerapkan metode irigasi hemat air. Penentuan jadwal tanam juga diharapkan selalu merujuk pada informasi prakiraan cuaca terbaru.
Guna memastikan imbauan ini berjalan efektif di lapangan, pihak dinas telah menginstruksikan para penyuluh lapangan untuk bergerak cepat.
"Kami terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian agar petani di tiap wilayah memperoleh pendampingan intensif mengenai pola tanam yang paling sesuai dengan karakteristik dan kondisi ketersediaan air di daerah masing-masing," papar Didik.
Pihak dinas berkomitmen akan terus memantau perkembangan cuaca secara berkala dan siap mengawal para petani agar roda produksi pertanian di Kabupaten Kudus tetap berputar optimal di tengah ancaman kemarau panjang.
"Harapannya, dengan langkah penyesuaian pola tanam yang dilakukan sejak awal, produktivitas pertanian di Kudus tetap terjaga dan ketahanan pangan masyarakat bisa dipertahankan," pungkasnya.