Kudus, Shabda.id -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus mempercepat proyek pembangunan Jalan Suryo Kusumo di Kecamatan Mejobo yang sempat disorot warga akibat dinilai lamban.
Pemkab memastikan seluruh pengerjaan kini sudah kembali sesuai jadwal setelah sempat mengalami keterlambatan progres.
Diketahui, proyek pembangunan jalan ini menggunakan anggaran senilai Rp1,9 miliar bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2026.
Pekerjaan ini meliputi pembetonan jalan sepanjang 300 meter dengan lebar 6 meter dan tebal 25 sentimeter, serta pengaspalan sepanjang 112 meter menuju perempatan.
Dimulai sejak 27 Juli dengan masa kerja 120 hari, pengerjaan ditargetkan rampung paling lambat pada 18 November 2026.
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris menyampaikan, masukan dari masyarakat menjadi catatan penting bagi pemerintah.
Ia menjelaskan, pengerjaan jalan berbahan beton memang membutuhkan jeda waktu hingga lapisan cor mengering sempurna sebelum aman dilintasi kendaraan.
"Pembangunan itu butuh proses. Kalau cor beton normalnya butuh waktu 40 hari, tapi biasanya dalam dua sampai tiga minggu sudah bisa dilalui," ujar Sam'ani, Selasa (6/10/2026).
Bupati juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami warga, seperti munculnya debu dan kemacetan lalu lintas.
Baca Juga:
Guna menekan dampak tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus bersama pemerintah desa setempat telah menyiapkan rekayasa lalu lintas serta rutin menyiram jalan.
Perbaikan ini dinilai krusial karena merupakan usulan warga untuk meninggikan badan jalan. Selain membuat akses transportasi lebih kokoh, peninggian jalan ini diharapkan efektif menekan potensi banjir di kawasan Mejobo.
"Setelah seluruh pekerjaan beton selesai, kondisi jalan diharapkan lebih baik sekaligus membantu mengurangi persoalan banjir," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kudus, Harry Wibowo membeberkan, pengerjaan menerapkan sistem buka-tutup separuh badan jalan.
Langkah ini diambil agar aktivitas ekonomi warga tetap berputar tanpa perlu menutup akses jalan secara total.
Terkait keterlambatan proyek yang sempat menyentuh angka di atas lima persen, pihaknya telah memanggil penyedia jasa melalui mekanisme Show Cause Meeting (SCM).
"Setelah dilakukan SCM, keterlambatan berhasil dikejar dan sekarang kembali normal serta terkendali," kata Harry.
Lebih lanjut, untuk mengatasi debu, penyedia jasa melakukan penyiraman menggunakan tangki air dua kali sehari, pagi dan sore.
Penyiraman tiga kali sempat dicoba, tetapi dikeluhkan warga karena membuat jalan terlalu becek. Frekuensi dapat ditambah apabila kondisi cuaca sangat panas.