Pati, Shabda.id- Teka-teki hasil pemeriksaan laboratorium menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi ratusan penerima manfaat di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mulai terungkap.
Hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah menemukan sejumlah bakteri pada beberapa sampel makanan yang dibagikan dari SPPG Gembong 1.
Pada sampel nasi bakar, laboratorium menemukan Escherichia coli (E. coli), Bacillus sp., dan Bacillus cereus.
Sementara itu, sampel tempe kering positif mengandung Bacillus sp. dan Bacillus cereus. Adapun sampel timun ditemukan positif Staphylococcus aureus.
Sedangkan sampel telur ceplok, semangka, dan kerupuk vina dinyatakan negatif dari parameter bakteri yang diperiksa.
Kepala Dinkes Jawa Tengah Zulfachmi Wahab mengatakan, pemeriksaan dilakukan setelah terjadi dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan penerima MBG di Gembong.
“Begitu ada kejadian, mitigasinya kan kita sampling makanan-makanan yang disajikan. Hasil muntahan juga kita periksa, fesesnya juga kalau ada diare kita periksa,” ujar Zulfachmi saat dikonfirmasi, Rabu 23 September 2026.
Baca Juga:
Menurutnya, pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap sisa makanan, tetapi juga terhadap sampel muntahan dan feses korban untuk membantu penelusuran kasus.
Temuan bakteri tersebut menjadi bagian dari proses investigasi epidemiologi untuk mengetahui kemungkinan sumber kontaminasi dalam rangkaian penyediaan makanan.
Zulfachmi menjelaskan, temuan E. coli dapat berkaitan dengan persoalan sanitasi, termasuk kemungkinan kontaminasi dari air. Sementara Bacillus dapat ditemukan pada saluran pencernaan dan lingkungan, sehingga temuan tersebut masih perlu dikaitkan dengan hasil pemeriksaan lainnya.
Selain sampel makanan, pemeriksaan terhadap sampel klinis juga dilakukan untuk membantu melihat keterkaitan antara bakteri yang ditemukan dengan gejala yang dialami para korban.
Sebelumnya, Dinkes Pati mencatat 424 orang mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG dari SPPG Gembong 1 hingga Jum'at 11 September 2026. Data tersebut mencakup siswa serta penerima manfaat lainnya.
Kasus tersebut kemudian ditangani sebagai kejadian luar biasa (KLB), sementara operasional SPPG Gembong 1 juga sempat dibekukan dalam rangka penanganan dan evaluasi.
Hasil laboratorium terbaru ini menjadi salah satu dasar untuk menelusuri titik kontaminasi, mulai dari bahan baku, air, proses pengolahan, kebersihan penjamah makanan, hingga penyimpanan dan distribusi makanan.
Dengan demikian, temuan bakteri dalam sampel makanan menjadi petunjuk penting dalam investigasi, namun hubungan sebab-akibat secara keseluruhan tetap perlu dilihat bersama hasil pemeriksaan klinis dan epidemiologis lainnya.