Pati, Shabda.id- Fakta terbaru muncul dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Keterlambatan pengiriman makanan diduga menjadi salah satu faktor yang kini mendapat sorotan.
Dari keterangan pihak sekolah, makanan MBG pada Rabu 09 September 2026 datang jauh lebih lambat dibandingkan jadwal biasanya.
Di SMPN 1 Gembong, makanan yang biasanya sudah tiba sebelum pukul 09.30 WIB, pada hari kejadian baru sampai sekitar pukul 11.30 WIB.
Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, mengatakan pihak sekolah tetap langsung membagikan makanan setelah makanan tersebut tiba.
"Kami pun langsung membagikan makanan tersebut karena ompreng makan menginstruksikan MBG harus dimakan sebelum pukul 12.00 WIB," terangnya saat dikonfirmasi, Jum'at 11 September 2026.
Sementara itu, keterlambatan juga terjadi di MTsN 3 Pati. Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, menyebut makanan yang biasanya dibagikan sekitar pukul 11.20 WIB, pada hari tersebut baru tiba setelah pukul 12.00 WIB.
Secara fisik maupun rasa, makanan saat diterima sekolah disebut tidak menunjukkan tanda-tanda basi.
Baca Juga:
"Anak-anak malah merasakannya enak," jelas Zaenal.
Menu yang didistribusikan saat itu berupa nasi bakar ayam suwir dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1.
Perbedaan waktu tersebut kini menjadi sorotan. Di SMPN 1 Gembong, makanan terlambat sekitar dua jam dari waktu biasanya tiba. Sedangkan di MTsN 3 Pati, makanan bahkan baru datang setelah pukul 12.00 WIB.
Keterlambatan pengiriman tersebut diduga berkaitan dengan munculnya persoalan kesehatan yang kemudian dialami sejumlah siswa setelah menyantap makanan.
Namun, keterlambatan distribusi belum dapat disebut sebagai penyebab pasti dugaan keracunan.
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kejadian. Sampel makanan MBG dan sisa muntahan siswa juga telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Hasil pemeriksaan tersebut nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengetahui apakah terdapat kaitan antara proses distribusi, kondisi makanan, dan munculnya keluhan kesehatan pada para siswa.