SHABDA
Cari berita…
Peristiwa

Update Kasus MBG Gembong: 265 Siswa Bergejala, 54 Dirawat Inap

Nahidur Rohman
Nahidur Rohman
Update Kasus MBG Gembong: 265 Siswa Bergejala, 54 Dirawat Inap
Salah satu siswa yang masih di rawat di RS (Foto: Shabda.id)

23 pasien dirawat di RSUD RAA Soewondo Pati, 12 pasien di RS Mitra Bangsa, 18 pasien di RS KSH, dan satu pasien di RS Fastabiq Sehat

Pati, Shabda.id- Jumlah warga sekolah yang mengalami gejala kesehatan dalam kasus dugaan keracunan terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, kembali bertambah.

Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati, hingga Kamis 10 September 2026 pukul 11.00 WIB, tercatat sebanyak 265 siswa mengalami gejala kesehatan.

Dari jumlah tersebut 54 siswa menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan. Rinciannya, 23 pasien dirawat di RSUD RAA Soewondo Pati, 12 pasien di RS Mitra Bangsa, 18 pasien di RS KSH, dan satu pasien di RS Fastabiq Sehat.

Sementara itu, sebanyak 138 siswa tercatat menjalani rawat jalan. Mereka terdiri dari 104 pasien di RSUD RAA Soewondo Pati, 31 siswa di RS Mitra Bangsa, dan tiga siswa di Puskesmas Gembong.

Namun, berdasarkan rincian data tersebut, masih terdapat 73 siswa dari total 265 orang yang belum tercantum dalam kategori rawat inap maupun rawat jalan. Karena itu, data tersebut belum dapat dimaknai bahwa seluruh 265 siswa telah terbagi dalam dua kategori perawatan tersebut.

Jumlah ini meningkat dibandingkan data sebelumnya. Pada Kamis pukul 09.00 WIB, Dinkes Pati mencatat sebanyak 259 siswa mengalami gejala, dengan 48 siswa menjalani rawat inap.

Dalam kurun waktu sekitar dua jam, jumlah siswa yang mengalami gejala bertambah enam orang. Jumlah pasien yang menjalani rawat inap juga meningkat enam orang.

Kasus tersebut terjadi pada warga sekolah di SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati yang sebelumnya mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.

Dinkes Pati bersama instansi terkait hingga kini masih melakukan pendataan dan pemantauan terhadap kondisi para siswa serta warga sekolah yang mengalami gejala.

Sementara itu, penyebab pasti munculnya gejala masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Pengujian dilakukan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan sekaligus mengetahui ada atau tidaknya dugaan kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi para siswa.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Nahidur Rohman

Penulis

Nahidur Rohman

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait