SHABDA
Cari berita…
Event

Kethek Seprapat Sindir Publik Lewat Kostum Sampah di Festival Adhi Loka Pati

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Kethek Seprapat Sindir Publik Lewat Kostum Sampah di Festival Adhi Loka Pati
Komonitas Seni Kethek Seprapat dari Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana (Foto: Shabda.id)

Komunitas Kethek Seprapat mementaskan sentratari dengan balutan kostum daur ulang. Berbagai limbah dan barang bekas disulap menjadi pakaian serta atribut pentas yang dikenakan para lakon.

Pati, Shabda.id- Komunitas seni Kethek Seprapat tampil beda dalam Festival Adhi Loka 2026. Bukan menggunakan kostum mewah, para seniman dari Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana, justru mengenakan pakaian berbahan limbah yang dikumpulkan dari Sungai Silugonggo.

Penampilan tersebut menjadi salah satu sajian yang menarik perhatian penonton dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pati ke-703 di Alun-Alun Simpang Lima Pati, Sabtu 08 Agustus 2026 malam.

Komunitas Kethek Seprapat mementaskan sentratari dengan balutan kostum daur ulang. Berbagai limbah dan barang bekas disulap menjadi pakaian serta atribut pentas yang dikenakan para lakon.

Seniman Kethek Seprapat, Bendot, mengatakan penggunaan limbah sebagai kostum bukan sekadar untuk menghadirkan pertunjukan yang unik. Di balik penampilan tersebut terdapat pesan kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap persoalan sampah dan lingkungan.

“Komunitas Kethek Seprapat memeriahkan Hari Jadi Pati ke-703. Tema limbah sampah, kita nggak beli karena sampah bisa kita buat, seperti rongsokan jadi atribut,” ungkap Bendot.

Menurutnya, sebagian bahan yang digunakan dalam pembuatan kostum berasal dari limbah yang ditemukan di Sungai Silugonggo. Sampah tersebut kemudian dikreasikan menjadi pakaian dan berbagai atribut untuk kebutuhan pertunjukan.

“Kita menggunakan pakaian yang terbuat dari sampah. Sampah-sampah ini kita ambil dari Sungai Silugonggo,” teriaknya dari atas panggung.

Pesan tersebut seolah menjadi sindiran bagi masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan. Limbah yang semestinya menjadi persoalan lingkungan justru diubah menjadi karya seni dan ditampilkan di hadapan ribuan penonton.

Kethek Seprapat sendiri bukan komunitas baru dalam dunia seni dan karnaval di Kabupaten Pati. Kelompok seni yang berdiri sejak 2012 tersebut telah beberapa kali tampil dalam berbagai kegiatan dan festival budaya.

Komunitas ini kini memiliki sekitar 70 anggota yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

“Anggota kami 70 orang, ada yang sudah tua, ada yang anak-anak sudah ikut tetapi dengan kita seleksi. Gaya kami tidak ada alas kaki. Dari mana pun pengen ikut bisa, tetapi kami seleksi harus tampil perfect,” ujarnya.

Dalam Festival Adhi Loka, Kethek Seprapat tampil pada penghujung rangkaian pertunjukan. Kehadiran mereka sekaligus memberikan warna berbeda di tengah penampilan 21 kontingen kecamatan yang membawa potensi budaya masing-masing.

Usai pertunjukan, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra memberikan apresiasi kepada para seniman Kethek Seprapat. Chandra bahkan turut berfoto bersama para anggota komunitas tersebut.

Penampilan Kethek Seprapat membuktikan bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah. Dengan kreativitas, barang bekas dapat diubah menjadi karya seni sekaligus menjadi media untuk menyampaikan kritik dan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait