SHABDA
Cari berita…
Pendidikan

Kisah Bu Sitimah: Guru SD yang Rela Tempuh 4 Jam Perjalanan Boyolali-Kudus Setiap Hari

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Kisah Bu Sitimah: Guru SD yang Rela Tempuh 4 Jam Perjalanan Boyolali-Kudus Setiap Hari
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat kunjungan kerja di SD Getassrabi Gebog Kudus (Foto: Foto: Istimewa)

Guru SD Negeri 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus ini harus menempuh perjalanan lintas kabupaten selama 4 jam setiap hari 4 dari rumahnya di Boyolali demi mengajar anak-anak membaca dan menulis

Kudus, Shabda.id - Setiap habis subuh, saat sebagian orang masih bersiap memulai hari, Sitimah sudah memacu sepeda motornya. Guru SD Negeri 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus ini harus menempuh perjalanan lintas kabupaten selama 4 jam setiap hari 4 dari rumahnya di Boyolali demi mengajar anak-anak membaca dan menulis.

​"Pagi saya berangkat habis subuh, pulang sampai rumah jam 4 sore. Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental," tutur Sitimah lirih.

​Perjalanan Sitimah menjadi potret nyata dedikasi guru di Indonesia. Ia mulai mengajar sejak tahun 2004 dengan status guru honorer, di mana ia pernah hanya dibayar Rp50.000 per bulan.

Kesabarannya berbuah manis saat diangkat menjadi PNS pada 2011. Kini, ia memegang Kelas 1—fase krusial bagi anak-anak. Karena banyak murid yang belum lancar membaca, Sitimah bahkan rela memberikan kelas tambahan gratis selama satu jam setelah pulang sekolah.

​Di tengah perjuangannya, Sitimah mengaku bersyukur dengan kebijakan baru melalui Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2026. Berbeda dengan dulu yang cair rapelan per tiga bulan, kini tunjangan profesi guru langsung cair setiap bulan.

Menariknya, tambahan penghasilan ini tidak dinikmati Sitimah sendiri. Ia rutin menyisihkannya untuk menyantuni anak yatim, duafa, hingga membantu ekonomi muridnya yang kurang mampu.

​Namun, fisik tentu ada batasnya. Faktor usia dan kesehatan membuat Sitimah berharap bisa pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya di Boyolali. Ia sudah dua kali mengajukan mutasi, namun selalu tertahan karena sekolah tempatnya mengajar masih kekurangan guru.

​Kisah heroik ini akhirnya didengar langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat kunjungan kerja. Mendikdasmen langsung meminta Dinas Pendidikan setempat untuk segera mencarikan solusi.

​"Dilepas saja jika ada sekolah yang sudah bersedia menerima Ibu pindah. Kasihan, terlalu jauh," tegas Abdul Mu’ti.

​Harapan mutasi ini kini terbuka lebar lewat Permendildasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru ASN, yang fokus mengatur pemerataan guru secara lebih manusiawi.

Bagi Sitimah, setiap kilometer yang ia tempuh adalah bukti ketulusan demi masa depan anak didik bangsa.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait