Kudus, Shabda.id -- Sosok Mbah Riyan, ulama bersahaja asal Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Di balik kehidupannya yang sederhana sebagai kuli bangunan dan pekerja serabutan, pria bernama asli Supriyanto ini ternyata merupakan seorang ahli penyunting naskah klasik (pentahqiq) kitab Arab yang diakui secara nasional.
Atas dedikasinya dalam menjaga warisan literatur Islam, pria kelahiran Kudus tahun 1986 ini dianugerahi penghargaan bergengsi MUI Award 2026 untuk kategori Karya Tulis Islam.
Di kalangan akademisi dan dunia pesantren, nama Mbah Riyan lebih akrab dikenal dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi—sebuah nama yang ia gunakan sebagai bentuk penghormatan kepada sang kakek, Harjo, yang mengajarkannya arti kerja keras dan ketabahan.
Kuli Bangunan yang Mengedit Ratusan Kitab Klasik
Banyak orang tak menyangka bahwa seorang pekerja harian yang tak canggung mengaduk semen atau bahkan menjadi buruh di gudang ekspedisi ini adalah sosok intelektual berpendidikan tinggi.
Mbah Riyan merupakan lulusan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta angkatan 2005. Keahlian utamanya terletak pada bidang tahqiq—proses meneliti, menyunting, dan memverifikasi keaslian naskah-naskah kuno berbahasa Arab sebelum diterbitkan.
Aktivitas tahqiq dimulai Mbah Riyan sejak 2012 saat membedah kitab Faraid Saniyah karya ulama kharismatik Kudus, KH Syaroni Ahmadi.
Hingga tahun 2026, lebih dari 100 kitab telah ditahqiq Mbah Riyan. Sebagian besar merupakan naskah karya ulama-ulama besar Nusantara yang belum banyak dipublikasikan.
Baca Juga:
Selain menyunting naskah kuno, ia juga menulis sekitar 10 kitab berbahasa Arab dalam berbagai disiplin ilmu Islam.
Pernah Diundang Kerajaan Arab Saudi hingga Mengajar di Perantauan
Jejak akademis Mbah Riyan terbilang mentereng. Sebelum memilih pulang kampung, ia sempat mengabdi sebagai pengajar di Lembaga Pendidikan Islam Arraayah, Sukabumi, Jawa Barat pada periode 2013–2018.
Bahkan saat menempuh studi di LIPIA Jakarta, prestasi akademik Mbah Riyan yang menonjol membuatnya mendapat undangan resmi dari Kerajaan Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji secara gratis pada tahun 2012.
Namun, pada 2018 ia mengambil keputusan besar untuk memboyong keluarganya kembali ke Desa Wates, Kudus. Tanpa rasa gengsi, ia melakoni pekerjaan apa saja demi mencukupi kebutuhan istri dan empat anaknya.
Di sela-sela waktu senggang dari kerja fisik, Mbah Riyan terus meluangkan waktu untuk mentahqiq kitab, menulis, dan sesekali pergi memancing untuk menyegarkan pikiran.
Tetap Rendah Hati dan Jauh dari Riuk Media Sosial
Uniknya, kabar mengenai kemenangan di MUI Award 2026 sempat hampir terlewat oleh Mbah Riyan. Ia mematikan panggilan dari nomor tak dikenal dan baru menyadari kabar gembira tersebut setelah membaca pesan WhatsApp yang masuk.
Sejak kembali ke kampung halaman, Mbah Riyan memang memilih membatasi diri dari media sosial. Aplikasi percakapan hanya digunakannya untuk berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, dan rekan akademisi terkait urusan naskah kitab.
Bagi Mbah Riyan, penghargaan maupun popularitas di media sosial bukanlah tujuan hidup. Ia memilih tetap menjalani kehidupan yang tenang dan bersahaja di desa, sembari terus memberi manfaat bagi khazanah keilmuan Islam tanpa perlu memburu pengakuan orang banyak.