Pati, Shabda.id- Tradisi Meron di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, menjadi salah satu warisan budaya masyarakat yang hingga kini masih dipertahankan.
Tradisi tersebut tidak sekadar menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menyimpan cerita sejarah, nilai keagamaan, serta filosofi kehidupan masyarakat setempat.
Ketua Lembaga Adat Desa (LAD) Meron, Mohammad Shoban Rahman, menjelaskan bahwa Tradisi Meron memiliki kaitan erat dengan sejarah Mataram Islam dan perjalanan masyarakat Sukolilo pada masa lampau.
Menurutnya, tradisi tersebut bermula dari kisah perlawanan terhadap Mataram Islam pada abad ke-17, ketika Kabupaten Pati berada di bawah pemerintahan Bupati Joyokusumo.
Pada masa itu, terjadi penolakan terhadap kewajiban membayar upeti kepada Mataram. Perselisihan tersebut kemudian berujung pada tewasnya Bupati Joyokusumo.
Para prajurit Mataram yang kembali dari Pati kemudian beristirahat di wilayah Sukolilo. Kedatangan mereka bertepatan dengan momentum perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW atau yang dikenal masyarakat sebagai Mulud.
Masyarakat Sukolilo kemudian mengabadikan suasana perayaan yang dilakukan oleh prajurit tersebut dalam sebuah tradisi yang hingga sekarang dikenal dengan nama Meron.
Dari sisi istilah, kata Meron juga memiliki filosofi tersendiri. Nama tersebut diyakini berasal dari gabungan kata rame yang berarti ramai dan tiruan atau meniru.
Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi ungkapan yang menggambarkan masyarakat Sukolilo meniru suasana perayaan yang ada di Kraton Mataram.
“Meron itu niru sing ning Kraton Mataram, meron ramene ron-teron-teron,” kata Shoban.
Salah satu bagian yang paling mencolok dalam Tradisi Meron adalah keberadaan gunungan.
Setiap pelaksanaan tradisi, masyarakat bersama Pemerintah Desa Sukolilo menyiapkan sebanyak 13 gunungan. Persiapannya dilakukan secara gotong royong dan membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Gunungan tersebut tidak dibuat sekadar untuk kemeriahan. Setiap bagian memiliki simbol dan filosofi tersendiri.
Pada bagian paling atas terdapat ornamen berbentuk jago atau ayam jantan yang melambangkan prajurit. Terdapat pula simbol modin yang merepresentasikan masjid.
Sementara bagian tengah gunungan dihiasi susunan uncek berbentuk kerucut yang dibuat dari bahan dasar ketan keras.
Adapun bagian bawah berisi nasi lengkap dengan berbagai lauk-pauk.
Proses pembuatan ornamen gunungan juga memiliki tantangan tersendiri.
Salah satunya berkaitan dengan kondisi cuaca. Bahan dasar ketan perlu dikeringkan secara optimal agar tidak mudah pecah ketika digoreng.
Dalam kondisi normal, proses pengeringan tersebut membutuhkan waktu sekitar 36 hari.
Setelah seluruh persiapan selesai, rangkaian puncak Tradisi Meron dimulai dengan pengeluaran kerangka gunungan dari rumah Kepala Desa Sukolilo pada 1 Mulud.
Gunungan kemudian diarak menuju Masjid Baitul Yaqin Sukolilo. Prosesi pengangkutan dilakukan secara estafet oleh sekitar enam hingga 10 warga.
Arak-arakan biasanya dimulai sekitar pukul 10.30 WIB. Sesampainya di masjid, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan sejarah Meron, sambutan pejabat, serta doa bersama.
Puncak tradisi kemudian ditandai dengan rebutan gunungan oleh masyarakat. Hasil bumi yang terdapat dalam gunungan tersebut dipercaya membawa keberkahan sekaligus menjadi simbol harapan masyarakat terhadap hasil panen yang melimpah.
Menariknya, meskipun Tradisi Meron kini turut diramaikan berbagai kegiatan budaya dan hiburan, pelaksanaannya tetap memiliki aturan yang harus dipatuhi.
LAD Meron memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan sound horeg. Volume suara dibatasi dan seluruh perangkat musik wajib dimatikan ketika rombongan mendekati kawasan masjid.
Aturan tersebut diberlakukan untuk menjaga kesakralan rangkaian Tradisi Meron, terutama ketika prosesi memasuki bagian utama yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan.
Selain itu, seluruh rangkaian prosesi juga ditargetkan selesai sebelum masuk waktu salat Ashar.
Bagi masyarakat Sukolilo, Meron bukan hanya pesta budaya tahunan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat yang mempertemukan sejarah, nilai keagamaan, gotong royong, serta harapan terhadap kehidupan yang lebih baik.
Keberlangsungannya dari generasi ke generasi juga menjadi bentuk upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya lokal agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.