Kudus, Shabda.id -- Di balik kesederhanaannya, Warung Semur Kutuk 'Lek Safa’ah' di Jalan Kudus-Pati KM 7 turut Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menyimpan keunggulan rasa kuliner yang tak lekang oleh waktu.
Mengandalkan menu semur ikan kutuk atau ikan gabus yang digoreng pas dan disiram kuah bumbu bawang nan harum, warung yang eksis sejak 61 tahun lalu ini berhasil mempertahankan standar kelezatan autentik yang sulit tandingi.
Keunggulan rasa masakan di warung ini terletak pada proses pengolahannya yang masih mempertahankan cara tradisional demi menjaga keautentikan rasa yang konsisten sejak tahun 1965.
"Ikan kutuk digoreng terlebih dahulu sebelum kemudian dimasukkan ke dalam kuah semur," ujar Safa'ah (58), pengelola generasi ketiga yang akrab disapa Mbah Safa'ah.
Selain itu, bahan baku utama berupa ikan kutuk segar didapat langsung dari pasar lokal guna memastikan kualitas daging ikan tetap prima saat disajikan.
Perpaduan daging ikan kutuk yang gurih dengan kuah semur manis-legit yang melimpah di atas piring, menciptakan sensasi rasa khas yang sulit ditemui di tempat lain.
Selain ikan, pelanggan juga bisa menikmati keunggulan semur telur bebek bacem yang bumbunya meresap sempurna.
Untuk menikmati satu porsi legendaris yang terdiri dari nasi, semur kutuk, dan teh hangat, pelanggan cukup merogoh kocek sebesar Rp35.000.
Baca Juga:
Warung ini juga menyediakan versi praktis berupa nasi bungkus kutuk seharga Rp30.000, serta nasi telur ekonomis yang ramah di kantong dengan harga Rp5.000 saja.
Kelezatan yang tak lekang oleh waktu ini membuat Semur Kutuk Lek Safa’ah memiliki tempat tersendiri di hati pelanggan setianya.
Bahkan, banyak pelanggan dari luar daerah yang rela menempuh perjalanan jauh demi menikmati sepiring kuliner adaptasi masa lalu ini.
"Pembeli ada yang dari Semarang, yang kebetulan punya saudara di Kudus," ungkap Mbah Safa'ah.
Meski memiliki keunggulan rasa yang luar biasa, Mbah Safa'ah mengakui bahwa tantangan zaman tidak bisa dihindari.
Minat pembeli kini cenderung berkurang dan warung lebih sepi karena hilangnya sejumlah pelanggan setia generasi terdahulu akibat faktor usia.
Kondisi tersebut membuat waktu operasional warung kini menjadi sangat singkat. Warung ini hanya buka selama 2,5 jam saja, mulai pukul 15.30 WIB dan biasanya sudah tutup pada pukul 18.00 WIB.
Stok ikan yang diolah pun kini sangat terbatas demi menjaga kesegaran masakan. Setiap harinya, Mbah Safa'ah rata-rata hanya mengolah dua ekor ikan kutuk besar seberat 2 kilogram, yang dipotong menjadi sekitar 10 irisan.
Bagi pencinta kuliner pusaka nusantara, datang lebih awal adalah kunci untuk tidak kehabisan kuliner istimewa khas Jekulo ini.