SHABDA
Cari berita…
Ekonomi

Geliat Sentra Pisau Kudus: Pesanan Melonjak 40 Persen Jelang Iduladha 2026

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Geliat Sentra Pisau Kudus: Pesanan Melonjak 40 Persen Jelang Iduladha 2026
Pembuatan pisau pemotong daging di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. (Foto: Foto: Istimewa)

Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H/2026 M, para pengrajin pisau di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus mendapat pesanan pisau pemotong daging yang meningkat hingga 40 persen dibanding hari biasa.

Kudus, Shabda.id - Menjelang Hari Raya Iduladha yang jatuh pada 27 Mei mendatang, para pengrajin pisau di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus sedang berpacu dengan waktu guna memenuhi lonjakan pesanan pisau pemotong daging yang meningkat hingga 40 persen dibanding hari biasa.

Kesibukan luar biasa terlihat di bengkel-bengkel kerja milik warga desa tersebut. Para pengrajin bekerja ekstra keras untuk menyelesaikan ribuan bilah pisau pesanan pelanggan yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun luar provinsi.

Salah satu pengrajin, Slamet Santoso, mengungkapkan bahwa tren tahun ini menunjukkan minat yang tinggi pada pisau berbahan stainless steel. Menurutnya, material ini menjadi primadona karena sifatnya yang anti karat dan lebih higienis untuk mengolah daging kurban.

"Tahun ini jauh lebih ramai. Peningkatannya sekitar 40 persen. Pesanan bukan cuma dari pedagang lokal Kudus, tapi sudah merambah ke berbagai wilayah di Jawa Tengah," ujar Slamet, Kamis (14/5/2026).

Meski omzet melesat, para pengrajin mengaku dihadapkan pada tantangan klasik. Kenaikan harga bahan baku, terutama timah untuk bagian gagang pisau, membuat margin keuntungan menjadi tidak maksimal.

Hal senada disampaikan oleh Susanto, pengrajin pisau baja karbon konvensional. Ia menyebutkan bahwa meskipun harga jual pisau di sentra ini sangat terjangkau—berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per bilah—para pengrajin masih terkendala oleh alat produksi yang sudah usang.

Mengingat kualitas pisau Desa Hadipolo yang sudah diakui secara nasional, para pengrajin berharap adanya sentuhan tangan dari pemerintah daerah.

Para pengrajin berharap adanya perhatian dari pemerintah, terutama bantuan alat produksi maupun tambahan permodalan.

Kini, dengan sisa waktu kurang dari dua minggu menuju Iduladha, aktivitas di Desa Hadipolo dipastikan akan terus mengepul. Bagi para pengrajin, momen kurban bukan sekadar ibadah, melainkan berkah tahunan yang mengasah keberlangsungan ekonomi mereka.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait