SHABDA
Cari berita…
Pendidikan

Respon Wacana Penambahan Bahasa Asing di Sekolah, PGRI Kudus: Kesiapan Guru Harus Jadi Perhatian Utama

TIA
TIA
Respon Wacana Penambahan Bahasa Asing di Sekolah, PGRI Kudus: Kesiapan Guru Harus Jadi Perhatian Utama
Ketua PGRI Kabupaten Kudus, Ahadi Setiawan. (Foto: Shabda.id)

PGRI Kudus beri tanggapan tentang wacana penambahan bahasa asing di sekolah, harap kesiapan guru menjadi prioritas utama.

Kudus, Shabda.id -- Wacana Presiden RI Prabowo Subianto yang menghendaki penambahan bahasa asing seperti Portugis dan Prancis dalam pembelajaran di jenjang pendidikan dasar hingga menengah menuai beragam tanggapan dari kalangan pendidik.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus, Ahadi Setiawan menilai, gagasan tersebut sangat baik untuk menjawab tantangan global. Namun, ia menegaskan bahwa implementasinya di lapangan memerlukan pertimbangan yang matang.

Menurut Ahadi, kebijakan penambahan mata pelajaran bahasa asing tidak bisa diterapkan secara seragam di seluruh daerah karena kemampuan dan kesiapan setiap sekolah berbeda-beda.

"Kalau arahan atau gagasan itu baik, tentu kami menyambut positif," katanya.

"Namun, kita harus melihat daerah mana yang memungkinkan untuk menindaklanjutinya. Tidak bisa digeneralisasikan di setiap kota, setiap sekolah, maupun setiap provinsi," imbuhnya, Selasa (2/6/2026).

Ia mencontohkan, di Kabupaten Kudus sendiri mungkin hanya ada beberapa sekolah yang dinilai mampu menerapkan pembelajaran bahasa asing tambahan tersebut, sementara sebagian besar lainnya masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Ahadi juga menyoroti efektivitas pembelajaran bahasa asing yang sudah berjalan selama ini, seperti bahasa Inggris, yang dinilai belum sepenuhnya mencapai target maksimal.

"Bahasa Inggris yang sudah diberikan selama ini saja pencapaian kemampuan peserta didiknya masih perlu menunjukkan perkembangan yang lebih signifikan. Jadi perlu dipertimbangkan secara matang jika akan menambah bahasa asing baru," katanya.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan penerapan bahasa asing tambahan ini dilakukan secara bertahap, khususnya menyasar jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dinilai jauh lebih siap.

Selain kesiapan peserta didik, faktor utama yang wajib diperhatikan pemerintah adalah ketersediaan tenaga pengajar. Ahadi mengungkapkan bahwa hingga saat ini, kebutuhan guru untuk sejumlah mata pelajaran inti saja masih belum sepenuhnya terpenuhi di berbagai daerah.

"Kesiapan tenaga pendidik harus menjadi perhatian utama. Saat ini guru bahasa asing tertentu seperti Jepang, Korea, atau Mandarin saja masih terbatas. Bahkan guru mata pelajaran utama pun di sejumlah daerah masih membutuhkan tambahan," jelasnya.

Ia berharap setiap kebijakan baru di dunia pendidikan selalu mempertimbangkan kondisi riil di lapangan agar tidak menjadi beban baru bagi pihak sekolah maupun peserta didik.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
TIA

Penulis

TIA

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait