SHABDA
Cari berita…
Lifestyle

Sentil Fenomena Street Coffee, Lesbumi Kudus Gelar Aksi Melukis dan Baca Puisi di Trotoar

TIA
TIA
Sentil Fenomena Street Coffee, Lesbumi Kudus Gelar Aksi Melukis dan Baca Puisi di Trotoar
Aksi live painting hingga pembacaab puisi di atas trotoar oleh Lesbumi Kudus pada Minggu (28/6/2026). (Foto: Istimewa)

Lesbumi Kudus gelar aksi melukis langsung dan pembacaan puisi di trotoar sebagai bentuk ekspresi sekaligus kritik sosial terhadap maraknya fenomena street coffee di Kota Kretek yang dinilai kian menggeser fungsi trotoar sebagai hak utama pejalan kaki.

Kudus, Shabda.id -- Sejumlah seniman yang tergabung dalam Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kudus menggelar aksi live painting (melukis langsung) dan pembacaan puisi di atas trotoar Jalan Pramuka turut Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus pada Minggu (28/6/2026).

Aksi kreatif tersebut menjadi bentuk ekspresi sekaligus kritik sosial terhadap maraknya fenomena street coffee di Kota Kretek yang dinilai kian menggeser fungsi trotoar sebagai hak utama pejalan kaki.

Kegiatan bertajuk "Bisik Bumi di Atas Trotoar" ini diikuti oleh lintas generasi dan komunitas, mulai dari seniman rupa, penyair, pegiat teater, mahasiswa, hingga pelajar.

Mereka menyulap trotoar menjadi ruang berekspresi terbuka untuk mengangkat isu lingkungan dan ruang publik.

Sejak sore hari, perhatian pengguna jalan dialihkan oleh aksi tiga seniman yang melukis di atas kanvas secara langsung.

Di sela-sela proses kreatif tersebut, para peserta bergantian membacakan puisi yang menyuarakan keresahan tentang kondisi lingkungan perkotaan serta hubungan manusia dengan alam.

Ketua Lesbumi Kudus, Abud SB Runcing menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Menurutnya, isu lingkungan tidak boleh hanya dipersempit soal hutan atau sungai, melainkan juga kenyamanan ruang publik di kawasan perkotaan yang mulai kehilangan fungsi utamanya.

"Di sini kami mengambil tema Bisik Bumi di Atas Trotoar, bagaimana manusia menjaga hubungan baik dengan alam, bumi, dan menyuarakannya melalui puisi serta lukisan," ujar Abud.

Lebih lanjut Abud menyoroti menjamurnya tren street coffee di sejumlah ruas jalan utama Kudus yang berimbas pada berkurangnya ruang aman bagi pejalan kaki.

Melalui pendekatan seni, Lesbumi ingin mengetuk kesadaran masyarakat sekaligus para pemangku kebijakan agar kembali memperhatikan tata ruang fasilitas publik.

"Di sepanjang jalan utama di wilayah kota masih tren street coffee. Kemudian Alun-alun juga lebih banyak digunakan untuk berdagang daripada menjadi ruang temu warga Kudus," sentilnya.

Melalui aksi ini, menghasilkan tiga karya lukis dengan kedalaman pesan yang berbeda. Salah satunya berupa lukisan abstrak tentang jeritan bumi yang terabaikan oleh hiruk-pikuk kota.

Sementara karya lainnya menggambarkan visual Tugu Lingga Yoni sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, yang mengakar pada filosofi Manunggaling Kawula Gusti.

Abud berharap, seni bisa menjadi media komunikasi yang halus namun menohok dalam menyampaikan aspirasi. Ruang publik yang sehat, menurutnya, harus tetap menjamin hak pejalan kaki di samping mengakomodasi aktivitas ekonomi.

Senada, salah satu peserta aksi, Amanda Putri Cahyani, mengajak masyarakat perkotaan untuk rehat sejenak dan merefleksikan kondisi alam sekitar.

"Di balik hiruk pikuk kota, alam selalu memberi pesan. Ada bumi yang tak pernah berteriak meskipun terluka. Mari berhenti sejenak, mendengar, dan mulai peduli terhadap alam yang perlu dirawat," pungkas Amanda.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
TIA

Penulis

TIA

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait