SHABDA
Cari berita…
Event

Warga Demaan Kudus Semarakkan Maulid Nabi dengan Kirab Golok-Golok Mentok

TIA
TIA
Warga Demaan Kudus Semarakkan Maulid Nabi dengan Kirab Golok-Golok Mentok
Kira Golok-golok Mentok oleh warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus pada Selasa (25/8/2026) sore. (Foto: Shabda.id.)

Warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, memadati Jalan Pangeran Puger untuk menggelar Kirab Golok-Golok Mentok pada Senin (25/8/2026) sore.

Kudus, Shabda.id -- Warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, memadati Jalan Pangeran Puger untuk menggelar Kirab Golok-Golok Mentok pada Senin (25/8/2026) sore.

Acara tahunan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati puncak Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.

Berdasarkan pantauan di lokasi, ratusan peserta yang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa berjalan beriringan selepas salat Asar.

Sambil melantunkan syair Golok-Golok Mentok dan Lir-Ilir diiringi tabuhan rebana, rombongan bergerak dari halaman Masjid Al Mubarok melintasi kawasan Alun-Alun Kudus sebelum akhirnya kembali ke titik awal.

Para peserta, khususnya kaum perempuan, tampak antusias mengarak gunungan hasil bumi serta ratusan keranjang warna-warni berisi aneka jajanan pasar.

Takmir Masjid Al Mubarok Demaan, Ubaidillah Andoko mengatakan, kirab tahun ini diikuti oleh 6 kontingen dari wilayah RW 1 dan RW 3. Sebanyak 750 keranjang jajanan turut diarak sepanjang rute perjalanan.

"Golok berarti benda atau senjata tajam, sedangkan mentok atau notok bermakna titik akhir," kata Ubaidillah saat dikonfirmasi mengenai makna filosofis tradisi tersebut, Selasa (25/8/2026).

Dari situ, Golok-Golok Mentok bisa diterjemahkan sebagai penajaman kesadaran masyarakat, khususnya umat Islam untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ubaidillah menjelaskan, tradisi ini tidak hanya menjadi simbol penajaman kesadaran masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kesetaraan perempuan untuk mengakhiri penindasan seperti di zaman jahiliyah.

Oleh karena itu, barisan pembawa keranjang didominasi oleh kaum hawa. Makanan yang diarak kemudian dibagikan kepada warga sebagai sarana bersilaturahmi.

Ia menambahkan, perayaan yang memasuki tahun kelima pelaksanaan berbentuk kirab ini diawali dengan rangkaian acara pembacaan maulid hingga parade bedug.

Isi keranjang pun kini lebih beragam mengikuti kreativitas warga, berbeda dari masa lalu yang didominasi olahan ketan.

"Kegiatan ini jadi upaya pelestarian tradisi agar masyarakat agar bisa melestarikan tradisi dahulu supaya tidak hilang ditelan zaman," ucapnya.

Salah seorang peserta kirab, Ilya Maulaya (42), mengaku bersyukur tradisi masa kecilnya ini terus dihidupkan kembali dalam bentuk festival yang lebih semarak. Ia berharap tradisi ini konsisten digelar setiap tahunnya.

"Bagus, semoga bisa dilaksanakan setiap tahun dan bertambah kreatif, terutama bagi generasi muda," ujar Ilya di sela-sela kegiatan.

Acara kirab berakhir menjelang petang dengan tertib. Makanan dan jajanan yang telah diarak kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar yang menyaksikan di sepanjang jalan.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
TIA

Penulis

TIA

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait