Kudus, Shabda.id -- Pertanyaan filosofis mengenai nasib ambisi manusia setelah kehancuran dunia diangkat ke atas panggung teater oleh Teater Aura Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK).
Pertunjukan seni bertajuk "Eva The Last Code" ini sukses digelar di Gedung Auditorium UMK.
Gagasan cerita berfokus pada kehidupan empat manusia yang bertahan hidup di dalam sebuah bunker usai kiamat melanda bumi.
Keempat tokoh tersebut adalah Eva sang pemimpin penelitian, Lia pakar sistem bunker, Mira pengendali DNA, serta Sena ahli teknologi.
Dalam keterbatasan udara yang harus dihirup melalui kapsul, muncul ambisi besar untuk melanjutkan peradaban dengan menciptakan sesosok manusia laki-laki bernama Gama.
Pemimpinan Produksi Teater Aura, Ida Nuris Sa'adah atau yang akrab disapa Riris menjelaskan, naskah produksi ke-13 ini memadukan konsep surealis dengan elemen teknologi masa depan.
Baca Juga:
Pertunjukan tersebut menyentil dorongan impulsif manusia yang kerap berambisi mengambil alih peran Pencipta.
"Kami membayangkan kehidupan setelah kiamat justru menghadirkan kemajuan teknologi yang lebih tinggi. Lalu timbul masalah ketika Gama, ciptaan mereka, mencuri seluruh DNA dan berkembang menyerupai manusia hingga akhirnya tak bisa dikendalikan," terang Riris usai pementasan.
Melalui naskah yang digarap selama dua bulan proses kreatif ini, Teater Aura ingin menyampaikan pesan moral mendalam bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan dan tidak sepantasnya memaksakan diri menjadi Tuhan.
Setiap tindakan kelewat batas dalam menciptakan kehidupan baru dipastikan membawa konsekuensi rumit yang tak terduga.
Pilihan tema fiksi ilmiah bernuansa dystopian ini terbilang langka dan segar untuk pertunjukan teater di wilayah Kudus.
Pihak penyelenggara pun membuka peluang untuk melanjutkan eksplorasi jalan cerita Eva The Last Code pada pementasan karya-karya Teater Aura selanjutnya.