Kudus, Shabda.id -- Program penghijauan di kawasan Pegunungan Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, terus menunjukkan progres positif.
Pemerintah Desa (Pemdes) Terban bersama kelompok tani setempat kini tengah mengencangkan upaya penyulaman dan penanaman lanjutan guna memastikan kawasan perhutanan sosial tersebut pulih seutuhnya.
Kepala Desa Terban, Supeno menegaskan, penghijauan ini merupakan komitmen jangka panjang yang telah dirintis sejak tahun 2020.
Memasuki periode 2024 hingga 2026, fokus utama tim di lapangan adalah menjaga keberlangsungan bibit yang telah ditanam.
"Mulai 2024 sampai 2026 fokus kami adalah penyulaman bibit yang mati dan penanaman lanjutan. Tujuannya agar kawasan Patiayam benar-benar kembali hijau," ujar Supeno, Selasa (12/5/2026).
Berbeda dengan penghijauan konvensional, Pemdes Terban memilih tanaman buah sebagai komoditas utama. Strategi ini diambil untuk menyeimbangkan fungsi ekologis hutan dengan kesejahteraan ekonomi warga.
Menurut Supeno, masyarakat cenderung lebih proaktif merawat pohon jika ada manfaat ekonomi yang bisa mereka petik secara langsung.
Baca Juga:
Selain menghijaukan perbukitan yang gundul, hasil panen buah dapat meningkatkan pendapatan petani. Kemudian, dengan menanam buah, petani merasa memiliki aset produktif, sehingga pengawasan terhadap hutan dilakukan secara sukarela.
"Kalau tanaman buah, petani lebih semangat merawat karena hasilnya bisa dinikmati. Jadi penghijauan tetap jalan dan ekonomi warga juga terbantu," ujarnya.
Sejauh ini, beberapa jenis tumbuhan yang ditanam meliputi mangga, alpukat, hingga petai, yang dipilih sesuai dengan kondisi lahan masing-masing kelompok tani.
Di sisi lain Supeno mengungkapkan, restorasi kawasan Pegunungan Patiayam mendapat dorongan besar pada tahun 2022 melalui dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) senilai kurang lebih Rp 5 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan bibit di lahan seluas ratusan hektare.
Secara teknis, Pemdes juga mengatur jarak tanam agar pertumbuhan pohon berjalan optimal tanpa perlu berebut unsur hara dan air. Hal ini dilakukan untuk menghindari kegagalan tumbuh yang sering terjadi akibat faktor cuaca.
Perubahan wajah Patiayam kini mulai terlihat nyata. Kawasan yang pasca-reformasi sempat gundul dan didominasi tanaman musiman seperti jagung, kini mulai tampak rimbun.
"Dulu kawasan sini banyak yang gundul. Sekarang sudah mulai hijau kembali dan masyarakat ikut menjaga karena merasakan manfaatnya," tambah Supeno.
Ke depan, Pemdes Terban memproyeksikan kawasan Patiayam tidak hanya sebagai hutan sosial yang produktif, tetapi juga bertransformasi menjadi sentra buah dan destinasi agrowisata unggulan di wilayah Kudus bagian timur.