Kudus, Shabda.id- Video pengeroyokan yang terjadi di Jalan Pattimura, Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, pada Ahad 27 September 2026 dinihari, sempat menghebohkan jagat media sosial.
Kapolsek Jati AKP Subkhan menyampaikan, setelah mendapat informasi, Piket Siaga Polsek Jati langsung mendatangi lokasi.
"Korban berinisial MAF (17), seorang pelajar asal Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus," kata Kapolsek Jati.
Saat kejadian, MAF sedang berboncengan sepeda motor bersama temannya, Riyan (20).
Dari hasil pemeriksaan, saat melintas di lokasi, korban bersama temanya berpapasan dengan dua pria, yakni Gunawan (45) dan Aditya Dwi Purnama (34), warga Desa Gulang, Kecamatan Mejobo.
MAF mengira kedua pria tersebut merupakan temannya. Ia kemudian menyapa dengan ucapan dalam bahasa Jawa, "Neng ndi su?". Namun, sapaan tersebut justru menimbulkan salah paham.
"Kedua pria tersebut tersinggung dan kemudian mengejar serta menghampiri korban hingga terjadi aksi pemukulan," ujar AKP Subkhan.
Baca Juga:
Aksi tersebut sempat direkam warga dan videonya kemudian beredar di media sosial.
Personel Unit Reskrim Polsek Jati segera melakukan penyelidikan. Petugas mengamankan rekaman video serta mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Polisi juga mendampingi korban untuk mendapatkan perawatan medis di RS Mardi Rahayu Kudus. Setelah mendapat penanganan, korban kemudian diantar pulang ke rumah dalam keadaan aman.
Meski sempat muncul rencana untuk membawa persoalan tersebut ke jalur hukum, kedua belah pihak akhirnya memilih menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Setelah dilakukan mediasi, korban dan pihak yang terlibat menyadari bahwa kejadian tersebut berawal dari miskomunikasi. Kedua pihak kemudian sepakat mengakhiri perselisihan secara damai.
Kapolsek Jati AKP Subkhan mengimbau masyarakat agar senantiasa menjaga sikap dan kesopanan saat berada di jalan raya. Menurutnya, masyarakat juga perlu menahan diri ketika menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
"Jangan mudah terpancing emosi. Kesalahpahaman kecil di jalan bisa berkembang menjadi persoalan yang lebih besar," imbau Subkhan.