Pati, Shabda.id- Debit air Waduk Seloromo di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, terus mengalami penyusutan di tengah musim kemarau. Kondisi tersebut membuat operator waduk menghentikan pengiriman air untuk mengairi lahan pertanian sejak 6 Oktober 2026.
Pantauan di lokasi pada Kamis 15 Oktober 2026, permukaan air waduk yang dibangun pada masa kolonial Belanda itu tampak menyusut drastis. Sejumlah bagian dasar waduk terlihat mengering, menyisakan hamparan tanah yang sebelumnya terendam air.
Pemandangan tersebut berbeda dari kondisi normal ketika air memenuhi area waduk hingga mendekati tepian. Kini, volume air yang tersisa terlihat jauh berkurang.
Operator Waduk Seloromo Gembong, Susanto, mengatakan penggelontoran air terakhir dilakukan pada 6 Oktober 2026. Setelah itu, pintu waduk tidak lagi dibuka untuk mengalirkan air ke persawahan karena debitnya terus menyusut.
Menurut Susanto, volume air waduk idealnya dipertahankan minimal 500 ribu meter kubik. Namun, berdasarkan kondisi terakhir, air yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 200 ribu meter kubik.
Baca Juga:
“Minimal air disimpan 500 ribu meter kubik. Akan tetapi, kondisi sekarang tinggal 200 ribu meter kubik,” ujarnya saat ditemui di Waduk Seloromo, Kamis 15 Oktober 2026.
Ia memperkirakan volume air akan terus berkurang apabila hujan belum turun dalam waktu dekat. Karena itu, penghentian penggelontoran dilakukan untuk menjaga ketersediaan air yang masih tersisa di waduk.
Susanto juga mengkhawatirkan kondisi waduk apabila penyusutan air terus berlanjut tanpa diimbangi hujan. Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.
Waduk Seloromo selama ini menjadi salah satu sumber pengairan lahan pertanian di lima kecamatan di Kabupaten Pati, yakni Gembong, Margorejo, Pati, Tlogowungu, dan Wedarijaksa.
Penghentian pengiriman air tersebut berpotensi berdampak terhadap petani yang mengandalkan pasokan dari waduk untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah mereka. Terlebih, volume air yang tersisa saat ini jauh di bawah batas minimal yang disebutkan operator.
Dengan kondisi tersebut, hujan menjadi salah satu faktor penting untuk membantu menambah kembali persediaan air Waduk Seloromo. Sementara itu, belum ada kepastian kapan penggelontoran air ke persawahan dapat kembali dilakukan.