SHABDA
Cari berita…
Lingkungan

Warga Pati Keluhkan Bau Bangkai Ikan Sapu-Sapu, Pemprov Jateng Siapkan Langkah Penanganan

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Warga Pati Keluhkan Bau Bangkai Ikan Sapu-Sapu, Pemprov Jateng Siapkan Langkah Penanganan
Anak-anak sekitar Bendung Karet menunjukan bangkai ikan Sapu-sapu (Foto: Shabda.id)

Warga juga berharap aliran air kembali tersedia di Sungai Juana sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian di sekitar lokasi

Pati, Shabda.id- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah merespons keluhan warga terkait bau menyengat dari bangkai ikan sapu-sapu yang mati akibat mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana, Kabupaten Pati.

Bangkai ikan tersebut rencananya segera dievakuasi dan dikubur di lahan kosong di sekitar bendung untuk mengurangi bau yang mengganggu aktivitas warga.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Urip Sihabudin, mengatakan pihaknya telah mengecek langsung lokasi serta bertemu dengan warga dan perangkat desa setempat.

Menurutnya, terdapat dua persoalan utama yang disampaikan masyarakat. Pertama, bau bangkai ikan sapu-sapu yang mengganggu. Kedua, permintaan agar aliran air dari waduk kembali dialirkan sehingga sungai dapat terisi dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan pertanian.

"Intinya, masyarakat mengharapkan sungai ada air kembali, sehingga bisa dimanfaatkan dan juga menghilangkan dampak bau dari ikan sapu-sapu," kata Urip pada Selasa 08 September 2026 kemarin.

Untuk mengatasi persoalan bau, Pemprov Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Pati sepakat segera memindahkan bangkai ikan dari lokasi.

Urip menyebut, bangkai ikan akan diambil kemudian dikubur di lahan kosong yang berada di sekitar Bendung Karet Sungai Juana.

"Ada lahan kosong. Bangkai nanti dikubur agar bau tidak lagi mengganggu," ujarnya.

Proses penanganan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Sebab, pemerintah masih perlu mendatangkan alat berat untuk menggali lokasi yang akan digunakan sebagai tempat penguburan bangkai ikan.

Sementara terkait permintaan warga agar aliran air kembali dialirkan ke Sungai Juana untuk mendukung kebutuhan pertanian, Urip mengatakan persoalan tersebut membutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan instansi yang memiliki kewenangan.

"Kalau untuk aliran air, perlu waktu karena harus berkoordinasi dengan instansi yang menaunginya," jelasnya.

Sekretaris Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Luwito Kito, mengatakan kondisi mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana bukan kali pertama terjadi. Peristiwa serupa, kata dia, pernah terjadi pada 2024.

Warga berharap penanganan bangkai ikan sapu-sapu dapat segera dilakukan. Selain persoalan bau, mereka khawatir kondisi tersebut menimbulkan dampak lain terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

"Permintaan kami, air dialirkan lagi untuk pertanian dan bau bangkai ikan tertangani," kata Luwito Kito.

Warga juga berharap aliran air kembali tersedia di Sungai Juana sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian di sekitar lokasi.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait