Kudus, Shabda.id -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus mematangkan rencana pengembangan kawasan wisata Museum Kretek bersama pihak swasta.
Seiring dengan masuknya investor, sebanyak 34 pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di area depan pintu masuk museum akan segera ditata dan direlokasi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Abdul Halil menegaskan, kebijakan ini murni bertujuan untuk menciptakan lingkungan museum yang lebih rapi dan nyaman, bukan untuk mengusir para pedagang.
"Perlu digarisbawahi bahwa kami tidak mengusir PKL. Kami akan melakukan pengelolaan dan penataan terhadap PKL yang sudah ada," tegasnya.
Saat ini, Disbudpar Kudus dikatakan Halil sedang menyiapkan skema terbaik agar tidak menimbulkan gesekan sosial dan dapat diterima oleh semua pihak.
Untuk merumuskan konsep relokasi tersebut, Disbudpar Kudus akan duduk bersama melibatkan para pedagang, pemerintah desa setempat, Dinas Perdagangan, hingga pihak investor.
Diketahui, penataan kawasan ini merupakan bagian dari kerja sama investasi senilai kurang lebih Rp353 juta per tahun dengan durasi diproyeksikan lebih dari lima tahun.
Baca Juga:
Dalam skema ini, terdapat dua titik utama yang pengelolaannya akan diserahkan kepada pihak ketiga, yaitu area pintu masuk dan wahana kolam renang.
Masuknya investor juga membawa perubahan pada sistem retribusi pengunjung. Ke depan, tiket masuk ke area utama museum akan digratiskan, menyerupai konsep yang diterapkan di Taman Krida.
Pengunjung baru akan dikenakan biaya ketika hendak menikmati wahana atau fasilitas tertentu di dalam kawasan museum.
"Pengunjung masuk area museum gratis. Biaya retribusi baru dikenakan saat mereka masuk ke wahana khusus, seperti kolam renang, ruang koleksi museum, atau rumah adat," terang Halil.
Pihaknya juga meluruskan bahwa kerja sama dengan swasta ini tidak berarti menyerahkan seluruh operasional Museum Kretek.
Pemkab Kudus tetap memegang kendali atas aset-aset inti, seperti bangunan museum utama, rumah-rumah adat, serta lahan di sekitarnya.
Langkah kemitraan ini diambil untuk mengoptimalkan pendapatan daerah yang sempat mandek. Pada 2025 lalu, realisasi pendapatan Museum Kretek hanya menyentuh angka sekitar 70 persen dari target.
Melalui kolaborasi ini, selain mengamankan pemasukan retribusi sewa di awal, beban biaya operasional harian termasuk tagihan listrik di area yang disewakan, akan sepenuhnya ditanggung oleh investor.