SHABDA
Cari berita…
Peristiwa

Trauma, Korban Dugaan Perundungan Pertimbangkan Pindah Sekolah

Arif Saifudin
Arif Saifudin
Trauma, Korban Dugaan Perundungan Pertimbangkan Pindah Sekolah
Padina Mahardikasari, founder Astuti Foundation (Foto: Shabda.id)

Kondisi psikologis korban masih belum pulih. Korban disebut masih ketakutan setiap kali mengingat sekolah maupun bertemu dengan guru

Pati, Shabda.id- Korban dugaan perundungan di MTs Islam Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, yang menyebabkan dua ruas jarinya putus, masih mengalami trauma pascakejadian.

Hal itu terungkap saat Astuti Foundation bersama Dinas Sosial P3AKB Kabupaten Pati dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati menjenguk korban di kediamannya, Senin 03 Agustus 2026.

Founder Astuti Foundation, Padina Mahardikasari, mengatakan pihaknya menerima laporan pertama dari keluarga korban pada Rabu 29 Juli 2026, jauh sebelum kasus tersebut viral di media sosial.

"Astuti Foundation mendapat laporan dari kakak korban pada 29 Juli. Hari ini kami menjenguk adik A. Alhamdulillah kondisinya sudah di rumah setelah menjalani perawatan," ujar perempuan yang akrab disapa Andin itu kepada awak media.

Selain memberikan dukungan moril, Astuti Foundation bersama Dinsos P3AKB dan Kemenag juga menyalurkan bantuan kepada korban.

Andin berharap proses hukum yang kini ditangani Polresta Pati dapat berjalan lancar dan mengungkap fakta secara terang.

"Kami berharap proses hukum berjalan dengan baik. Semoga ke depan tidak ada lagi anak-anak yang mengalami kejadian seperti ini," katanya.

Sementara itu, paman korban, Sulistiyono, mengatakan keluarga menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian dan berharap para pelaku diproses sesuai aturan yang berlaku.

Ia mengungkapkan hingga kini belum ada itikad baik dari pihak keluarga terduga pelaku.

"Dari keluarga pelaku belum ada yang datang menjenguk ataupun meminta maaf kepada keluarga korban," ujarnya.

Meski kondisi fisik korban mulai membaik, Sulistiyono menyebut kondisi psikologis korban masih belum pulih. Korban disebut masih ketakutan setiap kali mengingat sekolah maupun bertemu dengan guru.

"Adik masih trauma. Kemarin saat melewati depan sekolah saja sudah terlihat ketakutan. Bertemu guru juga masih takut," ungkapnya.

Karena trauma yang dialami korban, keluarga kini juga mempertimbangkan untuk memindahkan sekolah A agar dapat melanjutkan pendidikan di lingkungan yang lebih aman dan nyaman.

Bagikan ke Teman Anda

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram
Arif Saifudin

Penulis

Arif Saifudin

"Berdedikasi untuk menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi seluruh pembaca SHABDA."

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Artikel Terkait